Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Keluhan Petani Stroberi di Ciwidey, Pendapatannya Drop di Masa Pandemi

Enjang Setiawan, seorang petani, mengatakan selama masa pandemi tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. 

Keluhan Petani Stroberi di Ciwidey, Pendapatannya Drop di Masa Pandemi
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey
Pengunjung memetik strobery di kebun Mr.Dede di Kampung Tunggul1, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Kamis (3/3/2016). Aktivis pertanian dan juga staf ahli Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Alam Sari di Kecamatan Rancabali, Dede Badru Munir, mengatakan dari sekitar 600 hektare lahan pertanian stroberi di Pacira, kini hanya tersisa sekitar 2 hektare. Pertanian stroberi di Kecamatan Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali (Pacira) kian menyusut dan terancam punah. TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey 

TRIBUNNEWS.COM - Pandemi covid-19 membawa dampak luar biasa bagi petani stroberi di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Enjang Setiawan, seorang petani stroberi di Ciwidey, mengeluhkan pendapatannya turun drastis.

"Penjualan berkurang lebih dari 50%, biasanya bisa kirim ke berbagai daerah seperti Jambi dan Semarang, kini berhenti, hanya kirim ke Jakarta saja," ujar Enjang saat ditemui di kebunnya, Minggu (25/7/2021). 

Sebelum adanya pandemi, Enjang mengatakan, biasanya ia menjual 50 kilogram stroberi ke pengepul dengan harga Rp 40.000 per kilogram. 

Namun sejak adanya pandemi, ia menjual 25 kilogram stroberi dan dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram. 

Petani memanen buah stroberi di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (25/7/2021). 

"Yang paling terasa adalah wisatawan yang memetik sendiri ke kebun. Biasanya ramai, tapi sekarang kosong," ucapnya. 

Bagi pengunjung yang memetik sendiri di lokasi, biasanya mereka harus membayar Rp 80.000 per kg.

Wisatawan yang ramai untuk memetik, dikatakan Enjang ramai ketika Idul Fitri dan Idul Adha. 

Namun karena di kedua perayaan ini tempat wisata harus ditutup, maka tidak ada wisatawan yang datang juga membeli stroberi. 

Sementara itu, masa panen stroberi yang 2 hari sekali berbuah ini membuat petani stroberi harus mencari akal untuk tetap bisa menjual stroberinya. 

"Mengakalinya yaitu dikemas dalam bentuk frozen supaya tidak busuk," ucapnya. 

Endang mengatakan selama pandemi covid-19 tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. 

Ia harus bertahan sendiri untuk bisa menjual hasil panennya.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Tak Ada Wisatawan ke Ciwidey Membuat Petani Stroberi Mengakali Hasil Panennya dengan Cara Ini

Editor: Willem Jonata
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas