Tribun

Kajian Rumah Panggung Woloan Dalam Program Dosen Membangun Desa

Ricardo yang juga sebagai peneliti dan budayawan Minahasa menambahkan mengenai From Nature to Culture

Editor: Toni Bramantoro
Kajian Rumah Panggung Woloan Dalam Program Dosen Membangun Desa
tangkapann layar Zoom
Suasana Webinar Kajian Rumah Panggung Woloan dalam Program Dosen Membangun Desa 

TRIBUNNEWS.COM, TOMOHON - Rumah adat Minahasa memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Minahasa.

"Kearifan lokal juga melekat di rumah ini," ungkap Dr. Paul Ricardo Renwarin pada seminar nasional melalui online yang diselenggarakan oleh Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI), Kawanua Katolik (Kawkat) dan Pemerintah Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Kamis (28/10/2021.

Ricardo yang juga sebagai peneliti dan budayawan Minahasa menambahkan mengenai From Nature to Culture.

"Memang benar bangunan ‘rumah’ itu bercorak material-fisik-benda mati. Tetapi di tangan manusia pembangun atau para tukang, yang alami-natural-mati ini diolah dan ditata (=cultivate) menjadi ‘hidup’, yaitu ‘rumah hidup’ (the living house). Dari mana diperoleh ‘filosofi’ rumah hidup ini ? Lewat perlakuan khusus para tukang, baik lewat tindakan, kata-kata ungkapan, doa, simbol-simbol dalam proses mem-’bangun’ atau men-diri-kan rumah. Ricardo menjelaskan juga pentingnya memahami alur pembangunan rumah: sejak batu pertama sampai penggunaan rumah tersebut untuk dihuni atau istilah orang Minahasa adalah acara naik rumah baru," jelas Ricardo.

Sementara itu, pembicara lain, Dr. Krismanto Kusbiantoro, melihat rumah panggung woloan dalam perspektif penguatan Arsitektur tradisional nusantara.

"Dari sisi arsitektur, rumah bisa dilihat dari dua dimensi yakni rumah sebagai tempat bernaung dan rumah sebagai tempat berlindung," ungkap Krismanto.

Krismanto menjelaskan bahwa dalam kasus Arsitektur vernakular Asia Tenggara, yang memiliki iklim panas disertai dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi (Sekitar 70-100% memiliki kelembaban tinggi dan suhu sekitar 30 derajat Celsius) maka pola yang logis adalah pola shelter/bernaung yang artinya memiliki bukaan yang besar untuk udara mengalir, cahaya matahari masuk ke dalam ruang dan atap yang lebar dan besar untuk menahan curah hujan yang tinggi.

Tujuh (7) fitur umum hunian tradisional di Asia Tenggara yakni hunian tripartite, berlantai dengan berbagai ketinggian, atap yang condong keluar, hiasan pada wuwung, atap yang melengkung seperti sadel kuda dan treatment berbeda kayu antara akar dan pucuk.

Untuk arsitek rumah panggung Woloan merupakan Huniatan Tirpartite karena ada kaki berupa tiang panggung dengan kolongnya, badan rumah berupa dinding dengan jendela dan pintu serta kepala berupa atap pelana.

Krismanto juga menambahkan bahwa rumah panggung Woloan berlantai dengan berbagai ketinggian. “beda ketinggian pada area tertentu seperti teras kamar mandi lebih rendah”.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas