Tribun

Punya Potensi Besar, Sapuring Dikembangkan di Kepulauan Meranti

Selain dinilai ramah lingkungan, pengembangan sapuring juga turut berkontribusi dalam mengolah lahan gambut di Indonesia.

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Malvyandie Haryadi
Punya Potensi Besar, Sapuring Dikembangkan di Kepulauan Meranti
istimewa
Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) tengah mengembangkan industri produksi pakan ternak ayam dengan bahan dasar sagu parut kering (Sapuring) di Kepulauan Meranti, Riau. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) tengah mengembangkan industri produksi pakan ternak ayam dengan bahan dasar sagu parut kering (Sapuring) di Kepulauan Meranti, Riau.

Selain dinilai ramah lingkungan, pengembangan sapuring juga turut berkontribusi dalam mengolah lahan gambut di Indonesia.

BRGM pun menggandeng Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Rumbio Nusa Mandiri dan 4 Kelompok Usaha Ternak (KUT) yang berada di Desa Bagan Melibur, Desa Mayangsari, Desa Mekarsari dan Desa Sungai Anak Kamal, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti, Riau.

Program revitalisasi ekonomi BRGM melalui sapuring itu, disambut antusias oleh Ketua Kelompok Usaha Ternak Desa Bagan Melibur, Sumari.

Baca juga: Presiden Jokowi Tanam Mangrove di Abu Dhabi

Di mana pada Oktober, para peternak ayam mulai mencoba memberikan sapuring tersebut kepada hewan ternak.

"Tahap ujicoba sapuring pertama kali ini masih bagus, nanti kan ada pengecekan pertumbuhan ayamnya maksimal atau tidak. Namun saya berharap ke depannya bentuk sapuring yang halus ini bisa dibentuk seperti pakan ternak pur agar lebih tahan di tembolok dan ayam bisa lebih cepat kenyang," kata Sumari, Senin (8/11/2021).

Melihat program yang dijalankan BRGM, Miftah selaku Kepala Seksi Bidang Industri dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM, Kepulauan Meranti menilai, sapuring mempunyai potensi besar untuk terus dikembangkan.

“Kalau UMKM dan industri kecil di situ pengolahan sapuringnya terus tumbuh, maka tidak menutup kemungkinan daerah tersebut bisa jadi sentra pakan ternak,” ujar Miftah.

“Tapi untuk menjadi sentra itukan ada kategorinya, minimal untuk di luar pulau Jawa itu kan ada 14 Industri Kecil Menengah (IKM). Harapan kami beberapa kelompok terus muncul dan nanti continue, sehingga ini bisa diangkat menjadi sentra industri, ada tempatnya, gudangnya, ada ruang produksinya, lalu packing dan pelatihannya," sambung Miftah.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas