Tribun

Cegah Stunting, Arumi Bachsin Minta Generasi Muda Harus Sadar Gizi

Arumi Bachsin menyampaikan pentingnya generasi muda mempersiapkan diri sejak dini pencegahan stunting

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Erik S
zoom-in Cegah Stunting, Arumi Bachsin Minta Generasi Muda Harus Sadar Gizi
https://www.instagram.com/arumibachsin_94/
Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin meminta generasi muda memulai intervensi asupan gizi sejak usia remaja agar anaknya kelah terhindar dari stunting 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menyampaikan pentingnya generasi muda memulai intervensi asupan gizi sejak usia remaja.

Menurut Arumi, kesadaran ini terutama harus dimiliki para remaja putri yang akan menjadi ibu di masa depan.

Baca juga: BKKBN Perkuat Kemitraan dengan Pihak Swasta untuk Percepatan Penurunan Stunting

"Sebab, penting mempersiapkan sejak dini. Nantinya agar di masa depan, keturunan bisa bebas dari stunting," ujar Arumi melalui keterangan tertulis, Kamis (29/9/2022).

Hal tersebut diungkapkan oleh Arumi dalam Seminar Nasional "Aku, Kamu, Kita Generasi Sadar Gizi", yang diselenggarakan hasil kerjasama antara Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dengan BEM Universitas Airlangga.

Saat ini prevalensi stunting di Jawa Timur mencapai 23,5 persen dari total penduduk.

Sehingga untuk mencapai target nasional di tahun 2045 sebesar 14%, menurut Arumi, perlu kerja ekstra dan sinergi dengan banyak pihak.

Baca juga: Penyebab Stunting pada Anak: Rendahnya Akses Terhadap Makanan Bergizi hingga Pola Asuh Ibu

"Jadi kami di PKK kalau dikerjakan sendiri ini akan terasa susah. Bukan tidak mungkin. Jadi kita harus bersinergi dengan banyak pihak terkait,” ucap Arumi.

Istri Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut memaparkan bahwa saat ini generasi muda memiliki kebiasaan atau pola hidup yang kurang baik.

Sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada kehidupan jangka panjang nantinya.

“Fenomena Mager ini sudah melekat di remaja. Bahkan inilah yang membuat mereka terbiasa dalam pola hidup fast food. Padahal, jika kita memasak sendiri pasti kebutuhan gizi terpantau dengan baik,” katanya.

Arumi melanjutkan bahwa kualitas kesehatan dan hidup harus dijaga secara detil sejak dini. Agar nantinya, saat memasuki usia produktif dapat mengembangkan kemampuan diri dan tidak terhalang apapun.

“Karena di usia produktif, banyak yang termasuk pada kategori sangat gemuk. Sehingga menghambat produktivitas diri,”  tuturnya.

Baca juga:  Kasus Stunting Indonesia Masih di Atas Batas WHO, Bidan dan Para Ibu Berkolaborasi Memeranginya  

“Inilah pentingnya menjaga makanan minuman yang masuk ke tubuh kita. Agar tidak menghambat produktifitas kita sendiri,” tambah Arumi.

Persoalan gizi tidak hanya menyangkut stunting, melainkan juga resiko anak kelebihan berat badan atau obesitas.

Konsumsi makanan dan minuman yang tidak terkontrol saat ini banyak terlihat pada anak Indonesia. Salah satu akibatnya yaitu anak menjadi gagal tumbuh karena tidak mendapatkan nutrisi yang tepat.

Pemberian Susu Kental Manis pada anak yang dalam proses tumbuh kembang yang akan menjadi pemicu tersebut. Kadar gula yang terdapat dalam susu kental manis 2 kali lipat lebih banyak dari susu sapi.

Inilah yang mesti diketahui oleh masyarakat, bahwa susu kental manis bukan produk susu, dan bukan untuk diseduh secara langsung.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas