Tribun

Pramuka Saka Bahari 20 Hari Berlayar dan Kemah di Sail Tidore 2022, Melatih Mental dan Kemandirian

Dari serangkaian kegiatan PPKM Sail Tidore 2022 ini, Ana pun bertekad agar pengetahuan yang didapatkannya seputar kemaritiman dapat bermanfaat

Penulis: Naufal Lanten
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pramuka Saka Bahari 20 Hari Berlayar dan Kemah di Sail Tidore 2022, Melatih Mental dan Kemandirian
Tribunnews.com/Naufal Lanten
Pramuka Saka Bahari saat menyambangi Museum Rempah-Rempah dalam rangka PPKM Sail Tidore 2022 di Fort Oranje, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (28/11/2022). 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Naufal Lanten

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Setelah dilakukan selama 20 hari, Kegitan Pelayaran Pembentukan Karakter Maritim (PPKM) telah selesai dilaksanakan pada Senin 5 Desember 2022.

Selesainya kegiatan ini ditandai dengan tibanya KRI Teluk Palu-523 di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Jakarta Utara, Senin (5/12/2022) sekira pukul 11.00 WIB.

Pelayaran dan Perkemahan yang diikuti ratusan Pramuka Saka Bahari ini pun menyisakan berbagai kisah dari para pesertanya.

Jauh dari Orangtua, Rindu dan Kemandirian

Di antaranya ialah Ahmad Wijaya atau akrab disapa Awi, yang merupakan Pramuka Saka Bahari dari DKI Jakarta.

Warga Kelaurahan Cengkreng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat ini mengaku termotivasi ikut kegiatan PPKM Sail Tidore 2022 lantaran ingin melatih mental dan kemandirian.

Baca juga: PPKM Sail Tidore 2022 Diharapkan Bentuk Karakter Maritim yang Tangguh bagi Pramuka Saka Bahari

Sebab menurutnya, kegiatan yang didukung TNI Angkatan Laut (AL) ini memberinya banyak manfaat, terutama pada dua hal tersebut.

“Dari pertama saya mengikuti ini saya sudah belajar disiplin, makan teratur, tidur teratur, kegiatan sangat teratur semuanya. Sampai kegiatan di Tidore pun sama, teratur semua,” ujar Awi.

Pria kelahiran Jakarta, 5 Januari 2023 ini pun lantas menuturkan bahwa dirinya biasa hidup bersama orangtua di rumahnya, sehingga apa pun yang diinginkan dan dibutukan sudah disediakan oleh sang ibu.

Atas segala kemudahan yang dia rasakan, hal itu membuatnya hidup tidak teratur, mulai dari bangun siang hingga makan hanya satu kali dalam satu hari.

“Saya ini di rumah, di Jakarta, bangun jam 9, makan jam 11. Makan cuma sekali doang,” katanya.

Sementara itu, lanjut dia, kegiatan saat berlajar di KRI Teluk Palu-523 begitu teratur sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat di malam hari.

“Di sini, makan pagi jam 7 pagi sudah makan, jam setengah 1 siang sudah makan, Jam 18.30 sudah makan.”

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas