Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Duka UNS, Devitasari Gagal Wisuda Meski Tamatkan Urusan Kuliah dengan IPK 3,8

Nasib malang dialami oleh Devitasari Anugraeni, mahasiswa UNS yang melompat Bengawan Solo kini ditemukan meninggal, gagal wisuda meski dapat IPK 3,8

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Duka UNS, Devitasari Gagal Wisuda Meski Tamatkan Urusan Kuliah dengan IPK 3,8
uns.ac.id
IPK HAMPIR SEMPURNA - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Nasib malang dialami oleh Devitasari Anugraeni, mahasiswa UNS yang melompat Bengawan Solo kini ditemukan meninggal, gagal wisuda meski dapat IPK 3,8 

Adapun menurut keterangan dari UNS, DA berasal dari Temanggung.

Ia merupakan mahasiswa  Program Studi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret angkatan 2021 semester 8 (delapan).

Pakar Psikologi UNS, Dr. Farida Hidayati menyoroti banyaknya stigma negatif yang harus dihadapi menjadi halangan gangguan jiwa tidak teratasi sehingga berakhir melakukan bunuh diri.

“Ada beberapa hal penyebab satu mereka memang tidak ingin cerita. Mereka tidak ingin meminta bantuan. Karena apa? Takut dianggap sebagai orang yang lemah, tidak memiliki kekuatan kurang bersyukur, tidak religius, misalnya gitu. Stigma-stigma itu membuat mereka terhalang untuk melakukan konsultasi dengan profesional,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengakui tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi gangguan jiwa.

Ketersediaan fasilitas kesehatan mental juga dinilai masih sangat minim.

“Yang kedua karena biaya yang mahal. Biaya yang mahal mereka harus mengeluarkan pembiayaan ya mungkin mereka-mereka tidak siap. Ketersediaan psikolog itu kan juga terbatas ya. Artinya tidak seperti dokter atau seperti penyakit fisik itu lebih mudah dijangkau, misalnya ke puskesmas,” terangnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, timbulnya pikiran untuk mengakhiri hidup karena ketidakmampuan meregulasi emosi.

Ia tak mampu menjalani proses panjang dalam menyelesaikan permasalahan hidup.

“Memang salah satu penyebab adalah ketidakmampuan melakukan regulasi emosi. Sebenarnya banyak peran dari lingkungan. Mahasiswa ini kan cenderung sesuatu yang menginginkan segala ini cepat selesai, mereka tidak memiliki proses. Ini adalah budaya instan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadiannya,” terangnya. 

Sosok Dr. Sumardiyono

Nama Dr. Sumardiyono, S.KM., M.Kes menjadi sorotan lantaran disebut dalam surat wasiat mahasiswa UNS Solo yang lompat ke Sungai Bengawan Solo.

Menurut keterangan saksi, ditemukan sebuah sepeda motor dan tas berisi buku. Di dalamnya berisi pesan-pesan seperti surat wasiat dari korban.

Dalam surat tersebut, tertulis nama Sumardiyono.

Prof. Agus mengklarifikasi adanya nama Dr. Sumardiyono, S.KM., M.Kes dalam surat yang diduga ditulis oleh DA sebelum terjun ke sungai.

Guru besar UNS itu menyatakan, Dr. Sumardiyono, S.KM., M.Kes adalah dosen pembimbing akademik, dosen pembimbing pertama skripsi dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UNS.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas