Pasar Kembang Solo: Sentra Perdagangan Tradisional dan Jual Beli Bunga yang Melegenda
Menilik sentra perdagangan bunga segar, Pasar Kembang Solo, Jawa Tengah.
Penulis:
timtribunsolo
Editor:
Garudea Prabawati
Pada tahun 2006 ya ini mulai dibangun yang menjadi bangunan megah dan lebih layak dan tahun 2012 tersebut revitalisasi lagi untuk memperbaiki bagian-bagian dari pasar yang mulai rapuh.
“Yang dulu tuh modelnya kaya rumah kuno (rumah joglo) mulai di bangun dan 2007 mulai peresmian. Tahun 2012 mulai banyak yang rapuh dan diperbaiki,” jelas Pursidi (55), Staf pengelola pasar, Selasa, (26/8/2025).
Penyusutan Pengunjung
Penyusutan pedangan hingga pengunjung juga dialami oleh Pasar Kembang Solo yang terjadi pada saat sebelum wabah Covid-19 mulai menyerang.
Hal ini diungkapkan oleh Sri Wiyono (42), Lurah Pasar Kembang Solo, dirinya mengungkapkan adanya penyusutan pedagang dan pengunjung dikarenakan faktor tidak mau meneruskan usaha orang tua hingga bersaing dengan media online.
“Dulu sini penuh mbak, mungkin satu: dulu yang jualan kebanyakan orang tua sudah meninggal dan anaknya nggak mau meneruskan, kedua: online itu juga mempengaruhi dan kalah sama yang pedagang keliling,” ungkap Sri Wiyono.
“Mulai penyusutan sebelum Covid-19, sebelum covid standar, ya pengaruh covid itu selama 2 tahun, covid terlalu lama kemungkinan pelanggannya kan sudah pindah pembeli,”tambahnya.
Sri Wiyono juga menambahkan dirinya berharap kepada pedagang agar Pasar kembang ini berlangsung ramai seperti dahulu sebelum adanya Covid-19.
Daya Tarik Unik Pasar Kembang
Meski kini banyak pasar modern yang bermunculan, Pasar Kembang Solo masih mempertahankan pesonanya.
Suasana pasar tradisional yang khas, dengan aroma bunga melati, kenanga, dan mawar yang semerbak, menyambut setiap pengunjung.
Salah satu daya tarik utama merupakan keberadaan pedagang bunga yang telah mewarisi usaha ini secara turun temurun.
Mereka tidak hanya menjual bunga, tetapi juga melestarikan pengetahuan tentang jenis- jenis bunga, maknanya, dan secara merangkai sesuai dengan tradisi.
Salah satu yaitu Suminten (43) yang mulai berjualan tahun 2000 yang meneruskan usaha dari orang tuanya.
Suminten mulai membuka lapaknya pukul 04:00 WIB pagi hingga petang sekitar pukul 18:00 WIB.
Dagangan yang ia jual berupa berbagai jenis bunga seperti bunga tabur, bunga dekorasi, bunga untuk manten, dupa, perlengkapan orang meninggal
Harga yang ditawarkan untuk bunga tabur satu keranjangnya mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 700 ribuan.
Baca tanpa iklan