Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Menyingkap Jejak Moksa Prabu Sri Aji Jayabaya di Desa Menang Kediri

Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri, petilasan ini bukan sekadar objek wisata tetapi warisan leluhur.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Menyingkap Jejak Moksa Prabu Sri Aji Jayabaya di Desa Menang Kediri
HandOut/IST
SITUS BERSEJARAH - Kawasan Petilasan Pamukasan Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. 

Menyingkap Jejak Moksa Prabu Sri Aji Jayabaya di Desa Menang Kediri

Choirul Arifin/Tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI - Di balik hiruk-pikuk kehidupan kotanya yang semakin modern, Kediri menyimpan sebuah tempat yang masih dipenuhi kisah-kisah mistis sekaligus spiritual yakni Petilasan Pamukasan Sri Aji Joyoboyo.

Situs bersejah ini diyakini sebagai tempat Prabu Jayabaya—raja bijaksana Kerajaan Kadiri—bertapa dan meninggalkan jejak batin yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Baca juga: Kronologi Kepala Arca Ganesha Dijarah saat Kerusuhan di Kediri, Ditemukan Siswa SMA di Pinggir Jalan

Nama Jayabaya tak bisa dilepaskan dari Jangka Jayabaya, ia dikenal akan kesaktiannya melalui ramalan yang disebut-sebut mampu meramalkan peristiwa besar Nusantara, dari penjajahan bangsa asing, masa sulit yang panjang, hingga tibanya zaman kemerdekaan.

Ramalan ini tak hanya beredar dari mulut ke mulut, tetapi juga mengakar kuat sebagai bagian dari tradisi lisan Jawa.

 Tak heran jika petilasan ini sering dianggap sebagai ruang bersemayamnya energi masa lalu—tempat di mana doa, harapan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.

Rekomendasi Untuk Anda

Setiap hari, terutama menjelang malam Jumat, petilasan ini tak pernah sepi. Warga datang dari berbagai daerah untuk berziarah, menyalakan dupa, dan merapalkan doa.

Bagi sebagian orang, berkunjung ke sini adalah cara mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, sekaligus mencari ketenangan batin.

“Kalau saya ke sini, rasanya adem. Ada yang beda dari tempat lain,” ujar Sulastri (45), seorang peziarah asal Nganjuk. Ia mengaku rutin datang setiap bulan untuk berdoa agar usaha keluarganya selalu diberi kelancaran dan kesehatan.

Tentu saja di balik energi yang bersemayam, ada kisah mistis yang santer terdengar. Beberapa pengunjung mengaku pernah mencium wangi bunga tiba-tiba, mendengar suara gamelan samar, hingga merasakan seolah sedang diawasi.

Meski sulit dibuktikan secara logika, cerita-cerita itu justru membuat daya tarik petilasan semakin kuat.

Moksa: Jejak Perjalanan Raja Jayabaya

Salah satu kepercayaan yang melekat erat pada Jayabaya adalah bahwa ia tidak meninggal secara biasa, melainkan moksa—lenyap bersama raga menuju alam lain.

Keyakinan ini membuat petilasan Pamukasan dihormati bukan hanya sebagai tempat bertapa, tetapi juga diyakini sebagai titik peralihan Jayabaya dari dunia fana menuju keabadian.

Bagi masyarakat Jawa, moksa menandai kesempurnaan hidup seorang manusia, dan bagi Jayabaya, itu menjadi simbol kebijaksanaan sekaligus keagungan yang melampaui batas waktu.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas