Nabire Diguncang 116 Kali Gempa Susulan sejak Jumat, BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG catat 116 gempa susulan di Nabire sejak Jumat. Warga diminta tetap waspada dan hindari bangunan rusak.
Editor:
Glery Lazuardi
Dapat memicu gempa utama maupun gempa susulan
Guncangan dirasakan warga Nabire dengan intensitas II–III MMI, yang ditandai dengan getaran ringan dan benda-benda gantung yang bergoyang.
BMKG mencatat hingga Minggu malam telah terjadi 116 kali gempa susulan sejak gempa utama terjadi.
Gempa susulan terbesar terjadi Jumat pagi pukul 07.53 WIT dengan magnitudo 5,1.
Kepala Balai Besar MKG Wilayah V Jayapura, Yustus Rumakiek, mengimbau warga tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak bersumber dari BMKG.
"Masyarakat untuk menjauhi bangunan retak atau rusak serta memeriksa kondisi rumah sebelum kembali ke dalam rumah atau bangunan," imbau Yustus lewat keterangan tertulisnya.
Informasi resmi dan terkini terkait gempa dapat diakses melalui situs BMKG atau kanal resmi lainnya.
Dampak Gempa Nabire
Sejumlah fasilitas umum, seperti, kaca bandar udara (Bandara) baru Douw-Aturure Wanggar-Nabire picah, Ballroom Kantor Gubernur dan beberapa ruangan lainnya rusak, Jalan Aspal sebelum jembatan Sanoba-Siriwini retak dan hampir ambruk, dan Jaringan Telkomsel termasuk internetnya mati total sejak dini pukul 05.47 WIT.
Sekertaris Umum Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah, Dani M.B. Wonda membenarkan fasilitas kantor gubernur seperti Ballroom rusak.
"Kita dari KPA ada mau ikut giat dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, namun karena, gedung ballroom rusak jadi dibatalkan dan dipindahkan besok, Sabtu (20/9/2025) di Kantor Bapperida Provinsi," ujar Wonda.
Dampak gempa juga meluas hingga ke beberapa sekolah dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) meliburkan siswa-siswi nya untuk hari Jumat, 19 September 2025.
"Kelas 1 sampai kelas 6, semua pulang. Kecuali kelas 5 kita latihan upacara untuk hari senin," ungkap Kepala Sekolah SD Inpres Karang Mulia-Nabire, Yahya Yoas Waita, sambil memulangkan siswa-siswinya.
Masih pantauan TribunPapuaTengah.com, sepanjang jalan kepanikan warga terlihat dan anak-anak sekolah sedang berjalan kaki pulang ke rumah.
"Kami disuruh pulang karena, gempa jadi. Besok tetap masuk," pungkas Rio Dogopia anak SD YPPK St. Petrus Nabire, Kelas 1D.
Baca tanpa iklan