Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah 'Para Petarung' Teater Djarum, Pentaskan Paradoks Kehidupan di TBJT Surakarta

Pertunjukan teater berjudul "Para Petarung" yang disutradarai Asa Jatmiko di Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (26/9/2025)

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kisah 'Para Petarung' Teater Djarum, Pentaskan Paradoks Kehidupan di TBJT Surakarta
istimewa
TEATER SENI - Pertunjukan teater berjudul "Para Petarung" yang disutradarai Asa Jatmiko di Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (26/9/2025) (Tribunnews/Galuh Widya Wardani) 

Di sisi lain, para aktor yang memerankan tokoh maring-masing dituntut untuk memperkuat karakter tokoh yang dimainkannya dalam paradigma sebagai pemeran utama.

TEATER SENI - Pertunjukan teater berjudul
TEATER SENI - Pertunjukan teater berjudul "Para Petarung" yang disutradarai Asa Jatmiko di Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (26/9/2025) (Tribunnews/Galuh Widya Wardani) (istimewa)

Sutradara sengaja menjadikan setiap tokoh sebagai pemeran utama dalam kisah ini.

Mereka sengaja dituntut untuk mengeksplorasi dirinya menjadi pusat-pusat konflik itu sendiri.

"Saya memang sengaja membuat (naskah) tidak untuk satu tokoh utama tapi kalau bisa semua pemain itu adalah tokoh utama."

"Ketika saya bertemu dengan teman-teman saat memproses naskah ini saya tidak ingin mencari pemeran utamanya, tapi kalian berlomba-lombalah menjadi pemeran utama, tidak ada peran pembantu, karena masing-masih punya misi," kata Asa Jatmiko, usai pertunjukan selesai digelar, Jumat (26/9/2025).

Asa Jatmiko menjelaskan sejatinya tidak ada masalah demikian di tempat ia bekerja.

Naskah ini murni dibuat untuk mengekspresikan apa yang ada dalam imajinasinya, di mana manusia memang memiliki dua perwatakan yang mungkin berbeda.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tidak ada satu pun problem pekerjaan yang masuk dalam cerita ini, di tempat kami bekerja lancar aman jaya saja," jelas Asa.

Dirinya pun membebaskan penonton menangkap latar di mana gejolak ini terjadi pada dirinya, bisa di sekolahan hingga di kursi pimpinan pejabat negeri sekalipun.

"Bisa juga kita membayangkan ini bukan sebuah perusahaan melainkan negara," ungkapnya lagi.

Penampilan ini ditutup dengan diskusi dan tanya jawab bersama para pelaku seni seperti sutradara terkenal di Solo Raya, Gigok Anurogo hingga tokoh sastra dan teater Hanindawan.

(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas