Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pro dan Kontra Iuran Rp1000 per Hari Dedi Mulyadi, Ini Respons Warga Jabar dan Pengamat

Dedi Mulyadi gagas iuran Rp1.000 per hari bantu warga miskin Jabar. Program Rereongan Sapoe Sarebu picu pro dan kontra.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Pro dan Kontra Iuran Rp1000 per Hari Dedi Mulyadi, Ini Respons Warga Jabar dan Pengamat
Tribunnews.com/Fersianus Waku
DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperkenalkan program Rereongan Sapoe Sarebu—gerakan iuran Rp1.000 per hari untuk membantu pendidikan dan kesehatan warga kurang mampu. Program ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. 

TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggagas program “Rereongan Sapoe Sarebu” berupa iuran Rp1.000 per hari dari warga untuk membantu pembiayaan pendidikan dan kesehatan masyarakat kurang mampu.

Dalam bahasa Sunda, Rereongan Sapoe Sarebu berarti “gotong royong seribu rupiah per hari.”

Lewat Surat Edaran (SE) Nomor 149/PMD.03.04/KESRA, program ini ditujukan untuk membantu kebutuhan darurat pendidikan dan kesehatan, seperti biaya sekolah atau pengobatan warga kurang mampu.

Nantinya, dana akan dikumpulkan melalui rekening khusus Bank BJB, dikelola oleh pengurus di setiap instansi atau lingkungan masyarakat, dan dilaporkan secara terbuka melalui aplikasi Sapawarga maupun portal resmi Pemprov Jabar.

Program ini bersifat sukarela, namun surat edaran resmi telah dikirim ke bupati, wali kota, dan instansi pemerintah se-Jawa Barat.

Donasi dikumpulkan di unit kerja, sekolah, atau komunitas. Dana disalurkan melalui rekening khusus di Bank BJB. Pengelolaan dilakukan secara transparan oleh penanggung jawab lokal.

Nantinya, dana akan digunakan untuk biaya sekolah, seragam, buku untuk pelajar kurang mampu. Pengobatan warga yang tidak memiliki BPJS atau akses medis. Program ini berakar pada nilai budaya Sunda:

Rekomendasi Untuk Anda

Silih asah (saling mengingatkan)

Silih asih (saling mengasihi)

Silih asuh (saling membantu)

Beberapa warga menilai program ini membebani masyarakat yang sudah dikenai pajak. Ada juga yang mempertanyakan transparansi dan potensi unsur paksaan, terutama bagi pelajar dan ASN.

Sebagian mengaku pasrah. Sebagian mengaku mendukung. Namun, ada juga yang mengaku ragu.

Satu di antara warga asal Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Edi Kusnaedi (35) mengaku sangat mendukung program rereongan ini meski masih ragu dengan pelaksanaannya.

"Seribu rupiah itu kan kecil sekali. Tapi kalau dikumpulkan banyak orang, pasti hasilnya besar. Bisa bantu anak-anak sekolah atau orang sakit yang tidak mampu," ujar Edi kepada Tribun Jabar, Sabtu (4/10/2025).

Namun, program yang baik akan berakhir buruk jika pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang seharusnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas