Gubernur NTT Dorong Upaya Atasi Stunting dengan Kerja Sama Lintas Sektor
Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting hingga di bawah 18 persen pada tahun 2025.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Perlu Kerja Sama Lintas Sektor
- NTT Masih Catat Angka Stunting Tertinggi
- Fokus pada Penguatan Program Gizi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, menekankan bahwa upaya mengatasi stunting di Indonesia membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya.
Kondisi ini muncul karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang, yang dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.
"Upaya ini membutuhkan kerja sama lintas sektor, karena peningkatan gizi anak tidak hanya menjadi tanggung jawab dunia kesehatan, tetapi juga bagian dari membangun masa depan bangsa yang lebih kuat," kata Melkiades dalam keterangannya, Kamis (16/10/2025).
Untuk diketahui, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, 1 dari 5 bayi di Indonesia mengalami stunting.
Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting hingga di bawah 18 persen pada tahun 2025.
Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat memiliki angka stunting tertinggi, yaitu 35,3 persen atau sekitar 509 ribu anak.
Data ini menunjukkan bahwa jutaan anak Indonesia masih membutuhkan dukungan agar dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya.
Terkait hal ini, diperlukan penguatan program peningkatan gizi anak di wilayah prioritas, seperti Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, yang mencatat angka stunting 18,1 persen atau sekitar 3.400 anak.
Untuk itu, Human Initiative bersama para mitra terus mendorong berbagai upaya untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak.
"Stunting bukan sekadar persoalan angka, tetapi tentang masa depan anak-anak Indonesia. Mari berkolaborasi dalam kebaikan melalui solusipeduli.org dan tumbuhkan harapan bagi Indonesia bebas stunting," kata Vice presiden WPND Human Initiative (HI) Bambang Suherman.
Diketahui, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting nasional menjadi 14,2 persen pada tahun 2029, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun bersama Sekretariat Wakil Presiden dan Bappenas.
Baca juga: Menteri Wihaji Fokus Kawal MBG untuk Bumil dan Busui, Nutrisi Jadi Kunci Tekan Stunting
Berikut enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar, yaitu Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).
Baca tanpa iklan