Momen Dramatis Evakuasi Mahasiswi KKN UIN Walisongo: Warga Terjun dari Jembatan 5 Meter
6 mahasiswa UIN Walisongo hanyut saat tubing di Kendal. Seluruh korban ditemukan, 3 di antaranya meninggal di hari pertama.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Enam mahasiswa UIN Walisongo terseret arus saat tubing di Sungai Singorojo, tiga ditemukan tewas di hari pertama.
- Jenazah Riska Amelia ditemukan di bawah jembatan dengan luka parah, warga terjun langsung ke arus deras untuk mengevakuasi.
- Aktivitas tubing dilakukan tanpa sepengetahuan pengelola dan tanpa pemandu, di tengah cuaca berubah dan arus sungai sempit berbatu
TRIBUNNEWS.COM - Sebanyak enam mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jawa Tengah meninggal dunia. Mereka hanyut tersapu air saat melakukan tubing di Sungai Singorojo, Kecamatan Singorojo, Kendal.
Tubing adalah adalah aktivitas rekreasi mengarungi sungai menggunakan ban dalam besar (tube), biasanya tanpa alat bantu lain.
Tubing atau river tubing adalah kegiatan menyusuri aliran sungai dengan duduk di atas ban dalam besar yang mengapung.
Aktivitas ini mirip dengan arung jeram, namun lebih santai dan tidak menggunakan dayung.
Peserta hanya mengikuti arus sungai, kadang dibantu oleh pemandu atau tali pengaman di jalur tertentu.
Tiga di antara enam mahasiswa itu ditemukan tewas pada Selasa 4 November 2025.
Pada pencarian hari pertama, tim SAR menemukan 3 mahasiswa dari program studi Hukum Keluarga Islam dalam keadaan meninggal.
Mereka ialah Riska Amelia (21) asal Desa Penusuban RT 12 RW 1 Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang ditemukan pukul 14:13 WIB.
Kemudian M. Labib Rizqi (21) asal Desa Noyonta Antasari RT 2 RW 9 Kecamatan Pekalongan Timur Kota Pekalongan, yang ditemukan pukul 15:58 WIB.
Sedangkan Syifa Nadhilah (21) asal Dusun Gombang Desa Warungpring Kecamatan Warungpring Kabupaten Pemalang ditemukan pukul 16:07
Di hari kedua pencarian ini, tim SAR berhasil menemukan seluruh korban yang sebelumnya hanyut.
Yakni, Bima Pranawira (21) mahasiswa Pendidikan Fisika asal Sungonlegowo RT 2 RW 1 Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Ia ditemukan pukul 08:12 WIB di Kedung Mlantingan atau berjarak sekitar 150 meter dari lokasi kejadian.
Penemuan berikutnya ialah jenazah Muhammad Jibril Asyrafi (21) mahasiswa Pendidikan Matematika asal Desa Krapyak RT 6 RW 9 Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara.
Ia ditemukan pukul 09:20 WIB, di Karet Bulu Sawah Jolinggo atau berjarak 3,5 kilometer dari lokasi kejadian.
Pada Rabu (5/11/2025) malam, warga menemukan jenazah Nabila Yulian Dessi Pramesti (21), mahasiswa Hukum Keluarga Islam asal Desa Majasari RT 11 RW 2 Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.
Jenazah ditemukan di sekitar Karet Mbulu Jolinggo Desa Banyuringin kurang lebih 9.4 KM dari lokasi kejadian.
Baca juga: 5 Fakta Mahasiswa UIN Semarang Tenggelam saat KKN di Kendal, 6 Meninggal dan 9 Orang Selamat
Momen Dramatis Evakuasi Mahasiswi
Di tengah rintik gerimis siang, kabar duka lewat pengeras suara dari masjid Desa Getas Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal mengagetkan Riko. Langkah kakinya kini berbalik dari kamar mandi menuju sumber suara.
Di depan rumah, dia melihat tetangga berduyun-duyun menuju arah jembatan penghubung antar dukuh di Desa Getas.
"Ada informasi mahasiswa hanyut terbawa arus sungai di dekat kampung," bunyi kabar duka itu yang masih diingat Riko.
Tanpa pikir panjang, Riko bergegas menyusul rombongan warga menuju titik lokasi. Setiba di jembatan, warga telah berkerumun diselingi jeritan kesedihan.
Riko berusaha mendekat, berharap mahasiswa itu masih selamat, tapi takdir berkata lain. Mahasiswa yang diketahui bernama Riska Amelia (21), jurusan Hukum Keluarga Islam yang tengah menjalani masa KKN UIN Walisongo di posko Dusun Jolinggo itu, meninggal dengan luka parah di kepala.
Mahasiswa asal Desa Penusuban RT 12 RW 1 Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang itu, ditemukan pukul 14:13 WIB di bawah jembatan penghubung antar dusun, Selasa (4/11/2025).
"Ternyata sudah meninggal, kondisinya luka di kepala parah," ungkap Riko ditemui di kediamannya, Rabu (5/11/2025) sore.
Riko bercerita, proses evakuasi berlangsung dramatis. Saat arus masih deras dengan warna cokelat keruh, ada warga bernama Sodikun yang langsung terjun dari atas jembatan dengan ketinggian sekitar 5 meter.
Di lokasi itu, jenazah Riska ditemukan dalam keadaan tertelungkup tanpa busana dan terjebak putaran arus air.
Menurut Riko, proses pengangkatan jenazah ke atas jembatan pun berlangsung dramatis. Warga bahu-membahu mengangkat tubuh korban menggunakan tali.
"Debit air waktu itu naik agak tinggi dengan warna coklat keruh. Korban ditemukan di bawah jembatan persis,"
"Di situ kan ada tiang 2, nah itu di antara air kanan - kiri itu arusnya muter. Jenazah ditemukan di tengah arus yang muter itu," ujarnya.
"Waktu itu kelihatan rambut panjang, dan langsung evakuasi pakai tali diangkat. Ditakutkan kalau tidak segera dievakuasi, debit air malah tambah." sambungnya.
Riko mengungkapkan, sebelum kejadian kondisi cuaca di desanya cukup panas. Cuaca kemudian berubah menjadi gerimis selepas dhuhur, dan mendung lebih gelap di wilayah Sumowono Kabupaten Semarang.
Dia juga tidak tahu jika ada mahasiswa yang sedang berkegiatan di area tubing Genting.
"Kalau informasi dari warga sekitar, itu cuma main air tapi tanpa sepengetahuan pihak pengelola, tidak pakai pemandu. Biasanya kalau mau main ke situ (tubing genting), ya komunikasi dulu, apakah aman atau tidak,"
"Kalau pas lagi di atas hujan, biasanya akan disarankan tidak main ke situ dulu." paparnya.
Lebih lanjut, Riko menuturkan jika kondisi di sungai tebing gunting tak selebar sungai di bawahnya. Sehingga ketika air bah datang langsung menghantam mahasiswa yang bermain air.
"Kondisi di tubing genting agak sempit, jadi arusnya pasti deras dan sungainya lumayan terjal, banyak bebatuan," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.