Pemerintah Perluas Penguatan Ekosistem Sineas di Daerah Lewat Bioskop Alternatif
Program Bioskop Alternatif & Workshop Film Aceh sebagai upaya memperluas akses tontonan sekaligus meningkatkan kapasitas sineas daerah.
Penulis:
Reynas Abdila
Editor:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menyelenggarakan program Bioskop Alternatif & Workshop Film Aceh sebagai upaya memperluas akses tontonan sekaligus meningkatkan kapasitas sineas daerah.
Kegiatan ini menghadirkan ruang pemutaran film di luar bioskop komersial atau bioskop alternatif.
Bioskop alternatif bertajuk Sinema Rakyat Aceh digelar di Taman Budaya Banda Aceh
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya inisiatif ini dalam mendorong ekosistem perfilman daerah.
Menurutnya, pelaku perfilman lokal memerlukan pembekalan agar karya mereka mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Kami ingin memastikan sineas Aceh memiliki akses setara terhadap ruang apresiasi dan pasar. Melalui bioskop alternatif dan workshop ini, talenta lokal didorong memahami rantai nilai industri, dari produksi hingga distribusi, agar karya mereka berkelanjutan dan berdaya saing,” ujarnya dalam keterangan Rabu (26/11/2025).
Rangkaian penayangan berlangsung pada 24–25 November 2025 dengan beberapa sesi, menampilkan judul seperti Keluarga Cemara 2, Tegar, Nussa the Movie, Cocote Tonggo, dan Sore: Istri dari Masa Depan.
Kurasi ini dirancang untuk memperkaya pilihan tontonan sekaligus mendekatkan publik pada karya sinema Indonesia.
Konsep penyediaan ruang nonton di gedung teater serta sistem pemisahan tempat duduk sesuai dengan jenis kelamin.
Program ini menayangkan film yang pernah dan sedang beredar di bioskop nasional, termasuk karya komunitas lokal, dengan kapasitas hingga 400 penonton per sesi.
Menteri Ekraf mengharapkan melalui rangkaian kegiatan ini, Kementerian Ekraf optimistis Aceh dapat melahirkan karya sinema yang tidak hanya relevan secara kultural, tetapi juga kompetitif secara industri, sejalan dengan penguatan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan nasional.
"Saya berharap adik-adik bisa menjadi generasi penerus Aceh ya dan dan juga semakin kreatif dan tetap menjaga kearifan lokal," harapnya.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengatakan acara ini bukan hanya untuk menonton film, tapi juga bagaimana bisa merayakan rasa kebersamaan semangat kreatif masyarakat Banda Aceh yang dikenal sebagai daerah yang berbudaya.
Mengenai persoalan bioskop, ia menyebutkan terus menerima aspirasi dan keresahan warga untuk ruang hiburan tersebut.
"Bukan soal hitam putih, bukan soal menolak menerima, tapi juga bagaimana memastikan bahwa ruang hiburan yang hadir tetap sesuai dengan karakter dan nilai masyarakat Aceh," terang Illiza.
"Ada beberapa alternatif yang sudah pernah kita bahas bersama. Mulai dari pengawasan yang lebih kuat, pengaturan kategori tontonan, hingga konsep ruang yang lebih terkurasi, tapi pada akhirnya yang paling penting adalah kesiapan kita bersama untuk menjaga ruang hiburan tersebut agar tetap aman, nyaman, dan juga membawa dampak positif," ujarnya.
Baca tanpa iklan