5 Populer Regional: Kabid Propam Polda Sumut Dinonaktifkan - Banjir dan Longsor di Sumut
Berita populer regional dimulai Kabid Propam Polda Sumut dinonaktifkan hingga bencana alam di Sumut.
Penulis:
Endra Kurniawan
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Populer regional merupakan rangkuman berita paling banyak dibaca selama 24 jam.
- Dimulai dari Kombes Pol Julihan Muntaha, Kabid Propam Polda Sumut dinonaktifkan dari jabatannya karena dugaan pemerasan.
- Kemudian update banjir bandang dan longsor di Sumut.
TRIBUNNEWS.COM - Berita populer regional dimulai dari kasus dugaan pemerasan yang dilakukan polisi ke sesama polisi di wilayah hukum Polda Sumatra Utara.
Terbaru, Kombes Pol Julihan Muntaha selaku Kabid Propam Polda Sumut dinonaktifkan dari jabatannya.
Modusnya pihak Propam kerap meminta uang ratusan juta rupiah kepada polisi yang bermasalah agar kasusnya dapat diselesaikan.
Kemudian ada bencana banjir bandang dan tanah longsor sejumlah kabupaten dan kota di Sumatra Utara yang terjadi pada Selasa (25/11/2025).
Akibat kejadian ini, 10 orang dilaporkan tewas dan 6 sisanya masih hilang.
Berikut rangkuman berita populer regional selengkapnya selama 24 jam di Tribunnews.com:
1. Kabid Propam Polda Sumut Dinonaktifkan Buntut Dugaan Kasus Pemerasan Sesama Polisi
Viral di media sosial kasus dugaan pemerasan yang dilakukan polisi ke sesama anggota polisi di Polda Sumatera Utara (Sumut).
Kasus dugaan pemerasan tersebut menyeret nama Kombes Pol Julihan Muntaha selaku Kabid Propam Polda Sumut dan Kompol Agustinus Chandra selaku Kasubbid Paminal Propam Polda Sumut.
Dalam narasi yang diunggah akun TikTok @tan_jhonson88, Kombes Julihan disebut melakukan aksi pemerasan kepada sesama anggota polri dengan nominal mulai dari jutaan hingga Rp1 miliar.
Dalam unggahan tersebut, Kombes Julihan dan Kompol Agustinus mengaku kenal dengan Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto.
Hal tersebut membuat anggota polisi yang diduga diperas keduanya takut untuk membuat laporan.
Polda Sumut pun membentuk tim investigasi guna menyelidiki kasus dugaan pemerasan ini.
Kini, Kombes Julihan dan Kompol Chandra sudah dinonaktifkan dari jabatannya.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan mengonfirmasi hal tersebut.
"Benar. Sudah dinonaktifkan," ujarnya, dikutip dari Tribun-Medan.com.
Saat ini, Kompol Julihan diperiksa oleh Mabes Polri karena pangkatnya sudah Perwira Menengah.
Sementara Kompol Chandra diperiksa Bid Propam Polda Sumut.
2. Gegara Diejek Orang Gila, Warga Jambi Tembak Tetangganya Sendiri, Pelaku Dibela Netizen: Jaga Mulut
Penembakan terjadi di Jambi pada Minggu tanggal 23 November 2025 sekira pukul 09.00 WIB.
Supriyanto (47) warga Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, bersimbah darah.
Ia ditembak dengan senapan angin oleh tetangganya sendiri.
Supriyanto ditembak di bagian dada sebelah kirinya oleh Hairul (30) dikarenakan pelaku tak terima diejek "orang gila" oleh korban.
Puncak kejadian itu terjadi pada Minggu tanggal 23 November 2025 sekira pukul 09.00 WIB lalu.
Saat itu pelaku melintas di depan rumah korban dan korban menghina pelaku dengan ucapan "orang gilo".
Pelaku tidak menanggapinya. Namun, tak lama kemudian pelaku meminum miras jenis tuak lalu pulang ke rumah dan tertidur.
Setelah bangun tidur, pelaku kepikiran omongan korban yang menghinanya.
Hairul lantas mengambil senapan angin miliknya dan kemudian mengokang sebanyak tiga kali dan memasukkan peluru ke dalamnya.
3. Penyebab Polisi Buru Bukti Cairan Sperma Libatkan AKBP Basuki, Misteri Kematian Dosen Untag Semarang
Penyelidikan kasus kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Dwinanda Linchia Levi, memasuki babak baru.
Polisi kini menaruh perhatian besar pada pencarian sisa cairan sperma yang diduga berasal dari AKBP Basuki, perwira polisi yang sebelumnya diketahui berada di lokasi sebelum korban ditemukan tak bernyawa.
Langkah ini menjadi fokus utama penyidikan karena hasil forensik terhadap cairan tubuh di tempat kejadian perkara (TKP) dinilai dapat menjelaskan urutan peristiwa sebelum korban meninggal.
Dalam laporan penyidik, sejumlah barang di kamar kostel tempat Levi ditemukan meninggal telah disita, termasuk seprai, selimut, hingga sprei hotel.
Semua kain tersebut diperiksa karena berpotensi menyimpan jejak sperma atau cairan tubuh lain yang dapat mengarah pada rekonstruksi interaksi terakhir antara korban dan AKBP Basuki.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses pemeriksaan laboratorium forensik dilakukan untuk memastikan apakah ada DNA sperma yang cocok dengan profil Basuki.
“Pencarian sisa cairan tubuh, termasuk sperma, menjadi satu dari beberapa langkah identifikasi penting,” demikian penjelasan penyidik seperti diberitakan Tribun Jateng.
Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda kekerasan mencolok pada tubuh korban. Namun, aparat memastikan proses penyelidikan tidak berhenti pada visum luar.
Polisi pun melakukan pengembangan dengan memeriksa cairan tubuh pada kain dan seprai, pakaian korban dan pakaian milik Basuki, obat-obatan yang ditemukan di kamar, hingga data komunikasi dari ponsel kedua pihak.
4. Nasib Pilu Guru PPPK di Tegal, Dibunuh saat Bawa Penumpang Taksi Online, Anaknya Masih SMP dan SMA
Sebanyak tiga orang diamankan dalam kasus pembunuhan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) bernama Kusyanto (46).
Selain mengajar di SDN Kalinyamat Wetan 03 Kota Tegal, Jawa Tengah, korban mencari uang tambahan menjadi sopir taksi online.
Kasus pembunuhan terjadi saat korban mengantarkan penumpang dari Cinggawur, Kabupaten Tegal pada Minggu (23/11/2025).
Jasad ditemukan sehari kemudian di kawasan hutan lindung Perhutani KPH Balapulang, Desa Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Senin (24/11/2025).
Tersangka pembunuhan yakni Anggi Setiawan (37), warga Desa Kaligayam, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.
Anggi memesan taksi online untuk merampok mobil dan merencanakan pembunuhan.
Dua orang lain yang diamankan berstatus saksi dan perannya sebagai penadah mobil Honda Brio milik korban.
Kasus ini mendapat sorotan dari Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono yang mendatangi rumah korban untuk menyampaikan bela sungkawa.
“Beliau dan istrinya adalah guru terbaik kami,” ucap Dedy Yon.
Istri korban, Lusi Ervina Ervianti, menceritakan Kusyanto pamit bekerja menjadi sopir taksi online pada Minggu (23/11/2025).
Meski sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai guru, namun Kusyanto masih mencari uang tambahan untuk biaya pendidikan dua anak mereka yang masih SMP dan SMA.
Lusi yang juga berprofesi guru mengaku kaget mendapat kabar penemuan jasad suaminya dalam kondisi mobil serta handphone raib.
Ia menjelaskan Kusyanto baru lima tahun menjadi guru PPPK dan sebelumnya berstatus guru honorer.
“Beliau orangnya baik dan murah senyum. Disukai anak-anak,” ungkapnya.
5. Jumlah Korban Imbas Bencana Alam di Sumut: 10 Orang Tewas, 6 Lainnya Hilang
Polda Sumatera Utara (Sumut) mengeluarkan data sementara jumlah korban jiwa maupun korban hilang akibat bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini.
Data yang dikeluarkan Polda Sumut adalah bencana alam yang terjadi di 6 Kabupaten, yaitu Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Sibolga, dan Kabupaten Nias.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan menyebut, data korban meninggal dunia sementara ada 10 orang.
Lalu ada 6 orang dilaporkan hilang sejak kemarin dan 3 orang yang mengalami luka parah.
"Jumlah korban 19 korban, dengan rincian meninggal dunia 10 orang, luka-luka 3 orang dan dalam pencarian orang," ujar Ferry Walintukan, Rabu (26/11/2025), dilansir Tribun-Medan.com.
Menurutnya, sebanyak 2.383 kartu keluarga (KK) merasakan dampak dari bencana alam ini.
Ferry berujar, peristiwa ini meliputi 20 bencana alam mulai dari banjir, longsor, dan juga pohon tumbang.
"Longsor ada 12 kejadian, banjir 7 kejadian, dan pohon tumbang 1 kejadian," terangnya.
Gubernur Sumut Bobby Nasution merespon soal bencana alam di sejumlah kabupaten/kota yang terjadi pada Selasa (25/11/2025) kemarin.
Bobby menyebut, dirinya sudah mendapatkan informasi itu dan akan meninjau sejumlah kabupaten/kota yang terkena bencana alam dalam waktu dekat.
"Sudah (tahu informasi bencana alam) ada di Tapsel (Tapanuli Selatan), Tapteng (Tapanuli Tengah) dan Pak Bupatinya sudah nelpon secara langsung. Untuk Tapteng itu ada 4 korban jiwa," ucapnya.
(Tribunnews.com)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.