Jumlah Korban Banjir dan Longsor di Sumut: 34 Orang Tewas, 52 Lainnya Hilang
Data dari Polda Sumut menyebut jumlah korban meninggal dunia akibat bencana alam berupa banjir dan longsor di wilayahnya terus bertambah.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Sri Juliati
Walhi Sumut sudah berulang kali menyuarakan pentingnya perhatian penuh terhadap ekosistem Batang Toru yang disebut sebagai hutan tropis terakhir di Sumatera Utara.
Wilayah tersebut mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.
Kerusakan ekosistem ini sangat mengancam karena wilayah tersebut kaya akan flora dan fauna, termasuk orangutan tapanuli yang paling langka di dunia.
Walhi Sumut menduga kuat bahwa bencana yang terjadi saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru.
Oleh karena itu, Jaka mengkritik ungkapan intensitas hujan mengakibatkan banjir yang terjadi.
Padahal, pemerintah harusnya melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisasi dampak dari bencana.
"Laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem batang toru (harangan tapanuli) melakukan penebangan pohon dengan berlindung di balik izin yang dikeluarkan pemerintah," ungkap Jaka.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Bukan karena Hujan, Walhi Ungkap Kerusakan Hutan Batangtoru Picu Banjir dan Longsor Sumut.
(Tribunnews.com/Deni)(Tribun-Medan.com/Fredy Santoso/Anugrah Nasution)
Baca tanpa iklan