Pemerintah Minta Maaf Penanganan Bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar Masih Ada Kekurangan
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi yang tegas agar seluruh kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan BNPB mengerahkan sumber daya
Penulis:
Igman Ibrahim
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Pemerintah menyampaikan permohonan maaf atas penanganan banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang dinilai belum sepenuhnya optimal.
- Presiden telah meninjau langsung 3 provinsi terdampak bencana pada 1 Desember lalu. Hal tersebut memastikan negara hadir dan tidak meninggalkan masyarakat.
- Saat ini pemerintah menetapkan situasi ini sebagai prioritas nasional, termasuk penggunaan Dana Siap Pakai untuk mempercepat penanganan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) Pratikno menyampaikan permohonan maaf atas penanganan banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang dinilai belum sepenuhnya optimal.
“Kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam upaya penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini masih terdapat kekurangan,” ujar Pratikno dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi yang tegas agar seluruh kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan BNPB mengerahkan sumber daya secara maksimal.
Baca juga: Banjir Bandang di Sumatra Dipenuhi Ribuan Kubik Kayu Gelondongan, Mahfud MD: Kelalaian Pemerintah
“Instruksi dari Bapak Presiden sudah sangat jelas. Kita harus mengerahkan seluruh sumber daya dari pemerintah pusat, seluruh K/L, TNI, Polri, BNPB, agar setiap jam, setiap menit ada perbaikan, percepatan, dan peningkatan respon terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan Presiden telah meninjau langsung 3 provinsi terdampak bencana pada 1 Desember lalu. Hal tersebut memastikan negara hadir dan tidak meninggalkan masyarakat.
Apalagi, saat ini pemerintah menetapkan situasi ini sebagai prioritas nasional, termasuk penggunaan Dana Siap Pakai untuk mempercepat penanganan.
"Seluruh lembaga telah diinstruksikan oleh Bapak Presiden untuk ekstra responsif dan memastikan fokus dalam penyelamatan korban, distribusi bantuan, dan pemulihan berbagai fasilitas dan layanan vital," jelasnya.
Dijelaskan Pratikno, pemerintah juga mewaspadai potensi hujan sangat lebat hingga akhir tahun di Aceh, Sumut, Jawa, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Saat ini, lebih dari 500.000 ton bantuan telah dikirimkan ke wilayah bencana, termasuk daerah yang terisolasi karena akses putus.
Pesawat angkut A400 dan lebih dari 50 helikopter dikerahkan untuk menjangkau wilayah sulit. Airdrop logistik juga dilakukan menggunakan pesawat TNI AU CN-295, A-2904, dan C-130J Super Hercules.
"Kita juga memperoleh laporan daerah yang aksesnya terputus seperti Aceh Tamiang, Langsa, dan per kemarin sudah berhasil dilakukan airdrop dengan pesawat angkut TNI AU, CN-295, A-2904, dan juga C-130 J Super Hercules. Didukung oleh pengiriman logistik melalui jalur laut dengan kapal TNI, kapal angkut TNI," ungkapnya.
Ia menjelaskan layanan publik juga dipulihkan secara bertahap. PLN menargetkan perbaikan jaringan tegangan tinggi selesai pada 5 Desember, sementara Telkom mengerahkan 2.498 personel untuk memperbaiki telekomunikasi.
Baca juga: Warga Korban Banjir di Sumbar Sulit Dapatkan Air Bersih dan Sembako
Ia menegaskan pemerintah juga menelusuri dugaan kerusakan lingkungan yang diduga memperparah bencana.
“Satgas Penertiban Kawasan Hutan sudah turun tangan menelusuri dugaan gelondongan kayu yang banyak terbawa arus banjir,” pungkasnya.