Penyintas Banjir Aceh, Sumut, Sumbar Dapat Dukungan Kesehatan hingga Trauma Healing
Tiga pekan pascabanjir bandang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, derita para penyintas belum juga berakhir.
Ringkasan Berita:
- Tiga pekan pascabanjir bandang di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan keterbatasan layanan kesehatan.
- Layanan kesehatan gratis, dapur umum, dan program psikososial, khususnya di Sumatra Barat, hadir dengan dukungan relawan medis.
- Sementara BNPB mencatat hingga 21 Desember 2025 sebanyak 1.090 orang meninggal, 186 hilang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga pekan pascabanjir bandang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, derita para penyintas belum juga berakhir.
Ribuan warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan keterbatasan layanan kesehatan, sanitasi, serta pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.
Kondisi di lapangan menunjukkan fase darurat belum sepenuhnya terlewati.
Berbagai keluhan masih disampaikan para penyintas kepada relawan Indonesia CARE, mulai dari masalah kesehatan, buruknya sanitasi lingkungan, hingga kesulitan memperoleh makanan.
Indonesia Care adalah sebuah yayasan kemanusiaan di Indonesia yang fokus pada penyaluran donasi dan program sosial untuk masyarakat yang membutuhkan, terutama di bidang kebencanaan, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi
Di tengah situasi tersebut, mereka tetap melanjutkan aksi kemanusiaan. Di Sumatra Barat, organisasi ini masih aktif membuka layanan kesehatan gratis, mengoperasikan dapur umum, serta menggelar kegiatan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.
“Kami terus menjalankan aksi ini karena masyarakat di sini masih sangat membutuhkan kehadiran kami. Ini juga menjadi tanggung jawab moral untuk menjaga amanah para donatur Indonesia CARE,” ujar Ketua Posko Relawan Indonesia CARE, Mohammad Syahri, Minggu (21/12/2025).
Untuk menunjang layanan kesehatan, Indonesia CARE mengerahkan satu dokter, dua relawan paramedis, serta satu unit ambulans gawat darurat yang beroperasi di wilayah Tanah Datar, Sumatra Barat.
Sementara dapur umum dijalankan dengan dukungan relawan ibu-ibu PKK dari Perumahan Dobo Indah, Tanah Datar.
Program psikososial di Sumatra Barat dan Aceh turut mendapat dukungan dari sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya SD dan SMP Plus Global Talent School, Yayasan Pendidikan Al Mughni, SD Angkasa 12 Halim Perdanakusuma, SDN 07 Petamburan, SDN 03 Kampung Bali, serta SDN 05 Kebon Kacang Jakarta Pusat.
Selain itu, kebutuhan operasional dan logistik dapur umum didukung berbagai komunitas dan lembaga, seperti Komunitas Mercedes-Benz W204 Club, Crypton Maju Gemilang, Al Washliyah ZIS, Ondelivery, Bagi Indonesia, SMKS Karya Nusantara, Komunitas Street Photography Jakarta, STIKOM CKI, Partai Gerindra Lampung, BEM Universitas Asy Syafi’iyah, hingga Al Azhar Care Indonesia.
Di Aceh, program psikososial dan dapur umum Indonesia CARE juga memperoleh tambahan dukungan dari Forhati Nasional dan Ikatan Alumni FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
“Donatur perorangan juga cukup banyak menitipkan amanah kepada kami. Amanah ini harus benar-benar kami jaga,” ujar Ketua Posko Indonesia CARE Aceh, Dwiky Hartanto
Namun, keterbatasan masih menjadi tantangan serius di wilayah Aceh. Hingga kini, Indonesia CARE belum dapat membuka layanan kesehatan karena kekurangan tenaga medis.
“Kami masih kekurangan tim medis, sehingga sementara belum dapat membuka layanan kesehatan di Aceh,” ujar Dwiky.
Indonesia CARE menegaskan aksi kemanusiaan di Sumatra akan terus berlanjut seiring belum pulihnya kondisi para penyintas. Dukungan para dermawan dinilai masih sangat dibutuhkan agar pendampingan bagi korban bencana tidak terhenti.
“Ribuan jiwa kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga. Ini pukulan berat. Kami ingin terus mendampingi mereka. Relawan datang silih berganti untuk melanjutkan estafet kepedulian,” pungkas Dwiky.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, Minggu (21/12/2025) pagi per pukul 08.00 WIB. Berdasarkan data itu, tercatat 1090 orang meninggal dunia dan 186 orang masih hilang.
"Update Data Per 21 Desember 2025: meninggal 1090 jiwa, hilang 186 jiwa, terluka 7 ribu jiwa," tulis BNPB, Minggu (21/12/2025).
Baca juga: Dukungan Psikososial Polri Bantu Pulihkan Semangat Korban Banjir di Aceh Tamiang
Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat kerusakan infrastruktur. Tercatat 1,6 Rb fasilitas umum rusak, 434 rumah ibadah, 219 fasilitas kesehatan, 290 gedung/kantor, 967 fasilitas pendidikan, dan 145 jembatan terdampak. Sementara itu, sebanyak 147,2 Rb rumah mengalami kerusakan.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.