Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Cegah Kematian Gajah Sumatera Akibat Infeksi EEHV, Dokter Spesialis Datang dari India

Laila, gajah Sumatera berusia 1 tahun 6 bulan, ditemukan mati di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Bengkalis, Riau.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Willem Jonata
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Cegah Kematian Gajah Sumatera Akibat Infeksi EEHV, Dokter Spesialis Datang dari India
HO/IST
PENYELAMATAN GAJAH SUMATERA - Tim dari Vantara, pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa di Jamnagar, Gujarat, India, didampingi Fauna Land Indonesia bersama Ditjen KSDAE, melakukan evaluasi dan analisis medis sebagai tindakan preventif agar populasi gajah Sumatera tidak terinfeksi virus EEHV. 

Ringkasan Berita:
  • Gajah berusia 1 tahun 6 bulan di KPG Sebangga ditemukan mati, penyebabnya infeksi EEHV
  • Pemerintah mendatangkan ahli dari India untuk mencegah hal yang sama terjadi
  • Upaya ini diharapkan menyelamatkan populasi gajah Sumatera yang bukan hanya terancam akibat kehilangan rumah ekosistem mereka, tapi juga ancaman EEHV

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Laila, gajah Sumatera berusia 1 tahun 6 bulan, ditemukan mati di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Bengkalis, Riau.

Sebab kematiannya diketahui akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV).

Mencegah hal serupa terjadi, tim dari Vantara, pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa di Jamnagar, Gujarat, India, datang melakukan analisis medis dan melakukan tindakan preventif terhadap virus tersebut.

Mereka didampingi tim dari Fauna Land Indonesia.

“Kita hari ini mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina di Balai Besar KSDAE Riau, bersama tim dari Vantara dari India untuk bersama-sama mengevaluasi dan melihat kondisi Gajah yang di-captivity," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof Satyawan Pudyatmoko, Senin (22/12/2025).

Evaluasi dilakukan sebagai antisipasi atau mencegah kejadian yang sama seperti dialami anak gajah yang mati karena virus EEHV.

Rekomendasi Untuk Anda

"Itu akan kita cegah," tegasnya.

Menurutnya, pencegahan kematian gajah akibat infeksi EEHV memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini.

Dia mengharapkan kerjasama ini dapat menyelamatkan populasi gajah Sumatera yang bukan hanya terancam akibat kehilangan rumah ekosistem mereka, tapi juga ancaman EEHV.

“Mencegah itu, kita perlu ada pengetahuan cukup, perlu ada keterampilan cukup. Kita bekerjasama dengan mitra kita dari luar negeri untuk datang bersama-sama. Membuat peaceline data untuk Gajah yang ada di sini, lalu juga tentu capacity building untuk mahut (pawang gajah) ya,” jelasnya.

Meski kerjasama ini dimulai di Buluh Cina, upaya preventif nantinya juga akan menjangkau seluruh kantong gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, Sebanga, Waykambas dan lokasi lainnya.

CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen menyampaikan, pihaknya sebagai perwakilan Vantara di Indonesia, siap mendukung pemerintah dalam survei dan penanganan kesehatan gajah di TWA Buluh Cina.

Vantara dari India dikenal sebagai salah satu pusat penyelamatan dan rumah sakit gajah terbesar di dunia.

“Kami bermitra dengan Vantara dari India. Mereka adalah salah satu rescue center Gajah terbesar di dunia, dan memiliki rumah sakit Gajah terbesar di dunia,” kata Danny.

Tim dokter spesialis gajah dari India telah melakukan diagnosis awal, mempelajari kondisi kesehatan serta kesejahteraan gajah di lokasi tersebut, terutama pasca merebaknya penyakit herpes.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas