Mengulik Teka-teki Keberadaan Candi yang Cukup Besar di Kalibeji, Semarang
Candi era Hindu-Buddha pernah berdiri di Desa Kalibeji, Kacamatan Tuntang, Kab. Semarang. Keberadaannya dibuktikan dengan sebaran batu candi.
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS, KABUPATEN SEMARANG - Banyaknya jejak atau peninggalan era klasik Hindu-Buddha yang berserakan di Desa Kalibeji, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memunculkan satu kesimpulan kuat: Pernah berdiri candi yang cukup besar di sana.
Jejak-jejak itu ditelusuri kembali lewat acara walking tour atau jalan-jalan sejarah yang digelar oleh Komunitas Dewa Siwa, sebuah kelompok yang memfokuskan pelestarian peninggalan era klasik di Kabupaten Semarang. Acara digelar hari Minggu, (18/1/2026), dan dihadiri puluhan peserta, termasuk dari komunitas serupa.
Ada beberapa titik situs yang disambangi. Yang pertama ialah lingga patok atau lingga semu yang tertancap di area poskampling. Lingga seperti itu biasanya digunakan sebagai patok batas.
Ketua Komunitas Dewa Siwa Bambang Murdiyanto mengatakan lingga ini tidak in situ (berada di tempat aslinya), tetapi pindahan dari tempat lain. Diduga masih ada lingga lainnya, setidaknya tiga lagi, di kawasan Kalibeji.
“Daripada lingga berada di sana, warga memindahkannya buat tetenger (penanda), buat hiasan,” kata Bambang kepada Tribunnews.
Sementara itu, tidak jauh dari titik lingga patok, terdapat yoni besar yang lebih dikenal oleh warga sebagai Watu Gentong. Panjang, lebar, dan tingginya mencapai hampir satu meter. Bagian atas tampak aus dan diduga pernah digunakan sebagai tempat mengasah. Di sekitar yoni terdapat lapik arca, kemuncak, dan panel pagar.
Wahyu Eka Prasetya, salah satu anggota Komunitas Dewa Siwa, mengatakan yoni adalah simbol Dewi Parwati. Seharusnya di atas yoni terdapat lingga (phallus) sebagai simbol Dewa Siwa, tetapi lingga telah hilang. Menurut dia, lingga yoni bisa dipahami juga sebagai simbol terjadinya penciptaan.
Cerat atau nala yoni (saluran kecil tempat mengalirkan air) terlihat disangga oleh relief kura-kura dan naga.
“Ini menggambarkan tentang Samudramanthana. Perjalanan mencari Tirta Amerta (air keabadian),” kata Eka.
Sekitar 200 meter dari yoni jumbo itu, terdapat sebuah makam umum yang menyimpan balok-balok batu andesit bekas penyusun candi. Batu-batu tersebut disusun menjadi kijing besar. Beberapa batu juga dimanfaatkan warga sebagai nisan.
Sebaran lainnya adalah sebuah batu berelief kala atau kirtimukha di dekat mata air. Batu seperti ini biasa berada di ambang pintu candi. Kala tampak menghijau karena berlumut.
Baca juga: Komunitas Dewa Siwa Bangkit Kembali, Suntikkan Semangat Baru Pelestarian Cagar Budaya Semarang
Kemudian, di kebun warga terdapat yoni berukuran kecil dan potongan batu dengan motif antefiks atau simbar. Di dekatnya, tepatnya di samping rumah warga, terdapat fragmen hiasan kemuncak yang biasanya ada di bagian atas pagar candi.
Jejak candi yang cukup besar
Berserakannya batu-batu peninggalan era klasik menandakan bahwa pernah ada candi berukuran cukup besar di Kalibeji.
“Kalau dilihat dari lingga patok, kemudian reliefnya, ukuran panel hiasan di dinding candi, saya menduga candinya akan lebih besar dari Candi Klero atau Candi Dukuh. Pasti lebih besar,” kata Bambang.