Sanggar Madhangkara, Cara Ki Cahyo Kuntadi Mendekatkan Wayang ke Generasi Muda
Upaya dalang Ki Cahyo Kuntadi mendekatkan wayang kulit ke generasi muda adalah dengan mendirikan sanggar seni yang bernama Madhangkara.
Penulis:
Falza Fuadina
Editor:
Nuryanti
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah arus modernisasi dan perubahan selera masyarakat, Sanggar Madhangkara hadir sebagai ruang pembelajaran sekaligus pelestarian seni pedalangan.
Sanggar Madhangkara secara resmi didirikan oleh dalang wayang kulit, Ki Cahyo Kuntadi, pada 24 Oktober 2020.
Sanggar seni tersebut berlokasi di Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Nama Madhangkara merupakan singkatan dari Mangesthi Dharmaning Kabudayan Rahayu, yang bermakna bahwa perbuatan baik melalui kebudayaan dapat membawa manfaat dan keselamatan.
Sanggar Madhangkara lahir dari kegelisahan Cahyo Kuntadi melihat tantangan pelestarian seni tradisi di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, wayang tidak cukup hanya dipertunjukkan, tetapi juga harus diwariskan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan.
“Kenapa kok generasi sekarang enggak mau mendekat ke seni tradisi? Ternyata setelah saya belajar dan diskusi dengan teman-teman, seharusnya senimannya yang mendekatkan wayang ke generasi sekarang. Jangan generasi sekarang dipaksa untuk mendekat, namun kita dekatkan dengan cara membuat sanggar ini,” jelas Cahyo, saat diwawancarai Tribunnews di Sanggar Madhangkara, Kamis (8/1/2026).
Di sanggar ini, pembelajaran pedalangan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis mendalang.
Tetapi sanggar ini turut menghadirkan kelas karawitan, tari, sinden, dan bahasa Jawa.
Upaya Cahyo dalam mengembangkan sanggar mendapat dukungan dari masyarakat sekitar, hingga jumlah muridnya kini mencapai lebih dari 100 orang.
Suami dari sinden kondang Sukesi Rahayu ini menjelaskan dalam pengelolaan sanggar seni tersebut tidak ia lakukan sendiri.
Baca juga: Cerita Ki Cahyo Kuntadi, Dalang Asal Jawa Tengah yang Berupaya Jaga Kelestarian Wayang Kulit
“Jadi sanggar Madhangkara itu ada dua cabang. Yang pertama tentang pementasan di luar untuk bisa memenuhi kebutuhan di sanggar ini itu yang mengelola saya dan istri. Yang sekolahan sudah melibatkan warga, saya yang meminta warga untuk bergabung,” tutur Cahyo.
Adapun para pengajar di Sanggar Madhangkara merupakan dosen dan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Cahyo menekankan bahwa pembentukan karakter menjadi pondasi utama sebelum penguasaan keterampilan.
Nilai-nilai moral, tata krama, serta etika kehidupan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran para siswa.
Baca tanpa iklan