Pakar ITB Ungkap Mekanisme Longsor Cisarua: Aliran Lumpur dari Hulu Picu Kerusakan
Longsor Cisarua Bandung Barat tewaskan warga, pakar ITB ungkap mekanisme mudflow dan potensi bahaya susulan.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Longsor di Cisarua, Bandung Barat, memicu aliran lumpur dari hulu yang merusak permukiman. Pakar ITB menilai fenomena ini sebagai mudflow dengan daya rusak tinggi dan berpotensi longsor susulan.
- Tim SAR telah evakuasi 25 korban, 23 selamat dan 2 meninggal, sementara 80 orang masih dicari. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat 14 hari.
TRIBUNNEWS.COM - Peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, dinilai bukan sekadar akibat alih fungsi lahan.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alamiah dan faktor manusia, yang memicu mekanisme aliran lumpur (mudflow) dari hulu.
Menurut Dr. Imam, wilayah Bandung Barat berada di lingkungan geologi produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal. Kondisi ini rawan longsor, terutama saat hujan berkepanjangan membuat pori-pori tanah jenuh air sehingga kekuatan lereng menurun drastis.
Salah satu temuan penting adalah adanya longsoran di hulu lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai dan membentuk bendungan alam (landslide dam).
Ketika bendungan jebol, aliran lumpur bercampur pasir, batu, dan kayu meluncur deras ke hilir, merusak permukiman di bantaran sungai.
“Rumah warga tidak longsor di lokasi berdirinya, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu,” jelas Dr. Imam, Senin (26/1/2026).
Ia menekankan bahwa fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan aliran debris (debris flow), yang memiliki daya rusak lebih besar dibanding aliran air biasa.
Baca juga: Longsor di Cisarua: Perubahan Pola Makanan hingga Alih Fungsi Lahan Picu Kerentanan Lingkungan
Potensi Bahaya Susulan
Dr. Imam mengingatkan adanya potensi longsor susulan karena masih terdapat sumbatan di hulu sungai. Jika hujan deras kembali terjadi, akumulasi air berisiko jebol dan memicu aliran lumpur baru.
Meski sebagian besar area terdampak berada di zona kerentanan rendah hingga menengah, permukiman di sempadan sungai tetap berisiko tinggi.
Vegetasi disebut berperan penting menjaga stabilitas lereng dengan memperkuat tanah dan memperlambat kejenuhan air.
Mitigasi Bahaya
Untuk mengurangi risiko, Dr. Imam menyarankan tiga pendekatan:
- Stabilisasi lereng di hulu untuk mencegah longsor yang menutup alur sungai.
- Pemantauan jalur aliran dengan teknologi sensor getaran, geofon, dan kamera pemantau.
Perlindungan di hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur/debris seperti tanggul, pagar pemecah aliran, atau cekungan penampung. - Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, seperti surutnya aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan lebat, yang bisa menandakan adanya sumbatan di hulu.
“Yang paling merusak bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, mitigasi harus fokus pada pengendalian sedimen,” tegas Dr. Imam.
Baca juga: Pakar Geologi ITB Ungkap Fakta di Balik Longsor Cisarua, Sebut Ancaman dari Hulu
Tim SAR Evakuasi 25 Korban Longsor Cisarua, 80 Orang Masih Dicari
Tim SAR Gabungan kembali mengevakuasi 14 korban terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1/2026). Dengan penemuan tersebut, total korban yang berhasil ditemukan hingga kini mencapai 25 orang.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan dari 14 korban yang dievakuasi hari ini, tujuh ditemukan di worksite A1, enam di worksite A2, dan satu korban lainnya di worksite B1.
“Secara keseluruhan, saat ini sudah ditemukan 25 korban, dengan rincian 23 orang selamat dan sisanya meninggal dunia. Sementara itu, sekitar 80 orang masih dalam proses pencarian,” ujar Ade Dian Permana dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Baca tanpa iklan