Tragedi Bocah SD di Ngada NTT, Psikolog Ingatkan Anak Tak Boleh Memikul Beban Emosi Sendiri
Awal 2026 diwarnai duka Ngada NTT: tragedi bocah SD jadi alarm kesehatan mental anak, pesan pilu mengguncang nurani.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Awal 2026 diwarnai tragedi di Ngada, NTT. Seorang bocah SD diduga mengakhiri hidupnya, meninggalkan pesan pilu untuk sang ibu.
- Psikolog menilai kasus ini alarm serius kesehatan mental anak: beban emosi tak boleh dipikul sendirian.
- Peristiwa ini jadi panggilan bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk lebih peka, membangun ruang aman, serta hadir sebelum terlambat.
TRIBUNNEWS.COM - Awal tahun 2026 menjadi masa yang menyayat hati bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Flores. Sebuah peristiwa duka terjadi setelah seorang anak sekolah dasar diduga mengakhiri hidupnya.
Tragedi ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sekolah, maupun lingkungan terdekat korban, tetapi juga menjadi cermin bagi seluruh masyarakat tentang adanya luka batin yang kerap tak terlihat pada anak-anak dalam masa tumbuh kembang mereka.
Psikolog sekaligus dosen Program Studi Psikologi FKM Undana Kupang, Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi, menilai peristiwa ini harus menjadi perhatian bersama.
“Peristiwa ini tentu mengguncang rasa kemanusiaan kita. Duka ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi menjadi panggilan bagi kita semua—orang tua, pendidik, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Keseharian Bocah SD di Ngada NTT Sebelum Bunuh Diri: Hidup di Pondok Sederhana, Makan Pisang dan Ubi
Pesan Singkat yang Menggambarkan Beban Emosi
Menurut Abdi Keraf, yang perlu dicermati bukan hanya usia korban yang masih sangat belia, tetapi adanya pesan singkat yang ditinggalkan sang anak.
Pesan tersebut secara psikologis menggambarkan perasaan sedih, kebingungan, hingga rasa bersalah yang dipendam.
“Pesan itu tidak menunjukkan kemarahan atau kebencian. Justru itu adalah ungkapan emosi seorang anak yang merasa tidak mampu menghadapi situasi yang sedang dialaminya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pesan seperti itu bukan semata tanda keinginan untuk mati, melainkan isyarat kuat bahwa ada beban emosional yang tidak tertampung.
“Anak sekecil ini seakan ingin dimengerti, tetapi tidak menemukan saluran aman untuk menyampaikan perasaannya,” katanya.
Baca juga: Bocah SD di Ngada NTT Akhiri Hidup di Pohon Cengkeh, Korban Sehari-hari Bantu Nenek Jual Sayur
Dunia Emosi Anak yang Rapuh
Abdi Keraf menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan emosi yang belum matang.
Mereka belum memiliki kemampuan untuk menamai tekanan yang mereka rasakan dengan bahasa yang jelas seperti “saya tertekan” atau “saya tidak sanggup.”
Ketika menghadapi tekanan dari rumah, sekolah, pergaulan, maupun lingkungan sosial, emosi anak sering kali mengendap dalam diam.
“Pada usia ini anak cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa gagal ketika tidak memenuhi harapan orang dewasa, mengalami ketakutan berlebihan terhadap hukuman, rasa malu, atau penolakan,” paparnya.
Dalam kondisi tertentu, anak bahkan dapat merasa tidak berharga dan melihat kematian secara terbatas, tanpa memahami konsekuensi permanennya.
Baca juga: Kronologi Siswa SD Ngada Akhiri Hidup karena Tak Bisa Beli Alat Tulis, DPR: Peringatan untuk Negara
Tekanan yang Dianggap Sepele oleh Orang Dewasa
Tekanan psikologis pada anak sering kali bersumber dari hal-hal yang dianggap biasa oleh orang dewasa.
Baca tanpa iklan