Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Update Gempa Sulawesi Utara: Peringatan Dini Tsunami Dicabut, Terjadi 93 Kali Gempa Susulan

Gempa M7,3 di Manado picu tsunami kecil dan 48 susulan, sebabkan 1 korban tewas serta kerusakan bangunan, kini kondisi dinyatakan aman.

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Gempa magnitudo 7,3 mengguncang Manado pada 2 April 2026 pagi, sempat memicu peringatan tsunami yang kemudian dicabut setelah kondisi dinyatakan aman.
  • BMKG mencatat 48 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,5 serta tsunami kecil di beberapa wilayah dengan ketinggian di bawah 1 meter.
  • Bencana ini menyebabkan satu orang meninggal akibat tertimpa bangunan serta kerusakan pada sejumlah rumah dan fasilitas umum di wilayah terdampak.

 

TRIBUNNEWS.COM - Berikut update informasi terbaru terkait gempa yang guncang wilayah Manado, Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,3 terjadi pada Kamis (2/4/2026) pukul 05:48:16 WIB.

Sumber gempa berada di laut dengan kedalaman 62 Km, koordinat 1,25 LU-126,27 BT dan 129 km Tenggara Bitung-Sulut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa sempat diikuti dengan peringatan dini tsunami.

Setelah beberapa jam, BMKG mencabut peringatan tersebut pada pukul 10.56 Wita atau 11.56 WIB.

Rekomendasi Untuk Anda

Guncangan gempa bumi juga dirasakan sangat kuat di wilayah Kota Bitung dan Kota Ternate,  Maluku Utara, dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik

Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya memastikan wilayah pesisir sudah dalam kondisi aman.

Baca juga: Foto-Foto Gempa M 7,6 di Sulut-Malut, Bangunan Gereja hingga Rumah Rusak

"Masyarakat di pesisir sudah boleh beraktivitas normal," tutur Tony.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menguraikan, dari pagi hingga pukul 12.00 WIB, sudah ada 93 kali gempa susulan.

"Dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8 dan gempa dirasakan berjumlah 7 gempa," katanya dalam konferensi pers.

"Ini frekuensi yang terus kita pantau. Biasanya setelah satu atau dua hari trennya akan kita pelajari apakah akan berakhir satu minggu atau kadang-kadang dua minggu," lanjutnya.

Teuku Faisal melanjutkan, jenis gempa kali ini adalah gempa dangkal yang merusak akibat aktivitas kerak bumi.

"Dan mekanismenya pergerakan naik atau thrust fault," tegasnya.

Sempat terjadi tsunami di bawah 1 meter usai gempa.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas