Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Kasus Bayi Meninggal di RSUP M Djamil Padang, Keluarga Soroti Dugaan Kelalaian Medis

Kisah pilu Nuri Khairima ungkap dugaan malpraktik RSUP M Djamil Padang usai bayinya Alceo meninggal dunia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Kasus Bayi Meninggal di RSUP M Djamil Padang, Keluarga Soroti Dugaan Kelalaian Medis
Freepik
ILUSTRASI BAYI - Ilustrasi bayi yang diunduh dari situs Freepik, Selasa (16/9/2025). Kisah pilu Nuri Khairima ungkap dugaan malpraktik RSUP M Djamil Padang usai bayinya Alceo meninggal dunia. 

Ringkasan Berita:
  • Seorang ibu, Nuri Khairima, mengungkap dugaan malpraktik RSUP M Djamil Padang setelah bayinya, Alceo Hanan Flantika (14 bulan), meninggal dunia usai dirawat akibat luka bakar. 
  • Ia menilai penanganan medis lambat dan kurang komunikatif. 
  • Kasus ini disorot FABEM sebagai kegagalan sistemik layanan kesehatan.

TRIBUNNEWS.COM, Padang Kisah memilukan seorang ibu bernama Nuri Khairima mencuat di media sosial setelah ia mengungkap dugaan malpraktik yang menimpa buah hatinya, Alceo Hanan Flantika (14 bulan), di RSUP M Djamil Padang.

Alceo meninggal dunia pada Jumat (3/4/2026) usai menjalani serangkaian perawatan pasca luka bakar akibat tersiram air panas.

Dalam wawancara dengan TribunPadang.com pada Jumat (17/4/2026), Nuri menceritakan kronologi sejak anaknya dirujuk dari RS Hermina Padang ke RSUP M Djamil untuk operasi debridement.

Ia sempat menolak rujukan tersebut, namun pihak RS Hermina menyarankan karena fasilitas dan tenaga medis di RSUP M Djamil dinilai lebih lengkap.

Setibanya di IGD RSUP M Djamil pada Kamis (26/3/2026), Nuri mengaku anaknya tidak langsung mendapat ruang perawatan.

“Anak saya menangis kesakitan sambil digendong, karena tempat tidur IGD penuh,” ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia juga menilai respons tenaga medis terhadap kondisi kritis Alceo lambat dan kurang komunikatif.

Alceo baru menjalani operasi pada Jumat (27/3/2026) malam setelah menunggu lebih dari 24 jam.

Pasca operasi, ia dirawat di ruang HCU Bedah dan sempat menunjukkan tanda-tanda membaik.

Namun, kondisi kembali menurun pada 31 Maret hingga kritis pada 2 April.

Nuri menyebut penanganan medis tidak segera dilakukan meski ia berulang kali melapor. Alceo baru dipindahkan ke ruang PICU pada Kamis siang, namun sehari kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Nuri menilai kronologi tersebut menjadi dasar bagi keluarga untuk meminta pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian pelayanan.

“Bisa dikatakan tidak ada penanganan serius hingga anak saya meninggal,” tegasnya.

Baca juga: Dituding Malpraktik Sebabkan Anak 10 Tahun Meninggal, Dokter Ratna Gugat Kemenkes dan Presiden

FABEM Soroti Dugaan Kegagalan Sistemik

Sekretaris Dewan Pusat Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia (DPP FABEM), Riki Pratama, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar tragedi individual, melainkan alarm atas dugaan persoalan sistemik dalam pelayanan kesehatan rujukan.

“Ini bukan sekadar kasus individual. Ini adalah kegagalan sistemik pelayanan kesehatan rujukan. Keluarga berhak mendapatkan kejelasan dan keadilan,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas