Kisah Guru di Pelosok Negeri, Dibayar cuma Rp150 Ribu per Bulan hingga Tak Punya Status Kepegawaian
Guru honorer di Sikka tempuh 6 km jalan kaki tiap hari demi mengajar, meski hanya digaji Rp150 ribu per bulan, demi masa depan anak pelosok.
Penulis:
Muhammad Renald Shiftanto
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Guru honorer di Sikka tempuh 6 km jalan kaki tiap hari ke sekolah terpencil.
- Medan berat: jalan berbatu, hutan, jurang, hingga pantai jadi rute harian.
- Gaji hanya Rp150 ribu per bulan dari iuran komite, tanpa dana BOS.
- Sekolah minim fasilitas: kekurangan kelas dan tanpa internet.
- Guru berharap perhatian pemerintah soal kesejahteraan dan pemerataan pendidikan.
TRIBUNNEWS.COM - Cerita perjuangan guru di daerah terpencil selalu menjadi kisah yang menggetarkan hati.
Seorang guru honorer bernama Yustina Yuniarti, harus berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk mengajar kelas lima di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia berjalan kaki melewati jalan berbatu, perbukitan, hutan hingga pinggiran jurang, demi tiba di sekolah yang berada di wilayah terpencil.
11 tahun lamanya Yustina mengajar di SDK Wukur.
"Saya mengajar di SDK Wukur ini sudah 11 tahun. Saya tinggal di Sikka, jadi setiap pagi saya berjalan kaki menuju sekolah melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer," ujarnya, Sabtu (2/5/2026), dikutip dari TribunFlores.com.
Di balik perjuangannya, ada fakta yang cukup mengiris hati, Yustina hanya digaji Rp150 ribu per bulan.
Gaji tersebut, didapatkannya dari iuran komite sekolah, bahkan saat awal ia mengajar, Yustina hanya digaji Rp15 ribu per bulan.
"Gaji kami Rp150 ribu per bulan dari komite. Kami tidak mendapat gaji dari dana BOS,"
"Banyak orang tidak mau mengajar di daerah terpencil seperti ini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan," jelasnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Yustina tetap berbesar hati untuk tetap mencerdaskan bangsa di wilayah terpencil.
Ia berharap, sekolah tempatnya mengabdi bisa menjadi sekolah negeri, supaya lebih banyak guru yang bisa mengajar.
Baca juga: Pembunuhan Guru Ponpes di Banjarbaru Kalsel: Polisi Tangkap 2 Pelaku
Yustina juga berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah bagi para guru yang tinggal jauh dari sekolah.
Terakhir, ia berharap Presiden Prabowo Subianto untuk memperhatikan kondisi kesejahteraan guru dan pendidikan di wilayah terpencil.
Di sekolah tempat Yustina mengajar, hanya ada 34 siswa dan delapan pendidik.
Dari delapan orang tersebut, satu orang berstatus ASN dan tujuh lainnya adalah guru honorer dengan gaji Rp150 ribu per bulan.
Baca tanpa iklan