Kesempatan Pendidikan Layak Dorong Anak-anak Daerah Raih Prestasi hingga Perguruan Tinggi
Sebanyak 952 siswa menamatkan pendidikan Pemali Boarding School dengan mayoritas berasal keluarga ekonomi terbatas di Bangka.
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 952 siswa menamatkan pendidikan Pemali Boarding School dengan mayoritas berasal keluarga ekonomi terbatas di Bangka.
- Program beasiswa penuh membekali siswa keterampilan akademik, kepemimpinan, serta kepercayaan diri menghadapi masa depan lebih baik.
- Banyak alumni melanjutkan pendidikan, bekerja, serta membawa dampak positif bagi keluarga dan komunitas sekitarnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - 952 orang telah menamatkan pendidikan di Asrama Pemali Boarding School di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
Sekolah yang berdiri sejak 2000 tersebut menjangkau anak-anak dari Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti.
Di balik angka tersebut, Kepala Asrama Pemali Boarding School, Ulul, menyampaikan bahwa mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Banyak orang tua yang awalnya ragu karena keterbatasan biaya. Mereka tidak membayangkan anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan seperti ini,” ujar Ulul dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Setiap tahun sebanyak 36 siswa terpilih mendapatkan beasiswa penuh dan tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pemali.
Proses seleksi dilakukan melalui asesmen akademik dan psikologi bekerja sama dengan tim dari Universitas Padjadjaran.
Ulul menegaskan bahwa pembinaan di asrama tidak hanya berfokus pada akademik.
Para siswa juga dibekali keterampilan seperti public speaking, pengelolaan media sosial, serta penguatan karakter dan kepemimpinan.
Pembinaan ini dilakukan secara rutin untuk membantu siswa menghadapi tantangan di luar sekolah, baik di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan cara mereka melihat masa depan,” ujarnya.
Dampak program ini mulai terlihat dari capaian para siswa. Tahun ini, sebanyak 20 siswa berhasil lolos ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi, sementara siswa lainnya masih menjalani proses seleksi melalui jalur tes.
Para siswa juga mencatatkan prestasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di tingkat Kabupaten Bangka.
Di samping itu, dampak yang lebih krusial justru terlihat dalam jangka panjang. Banyak alumni yang melanjutkan pendidikan atau telah bekerja, dan perlahan mulai berkontribusi kembali di lingkungan sekitarnya.
“Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga membawa pengaruh bagi keluarga dan komunitasnya. Itu yang paling terasa,” katanya.
Menurut Ulul, tantangan terbesar para siswa justru muncul pada masa awal adaptasi. Sebagian siswa belum pernah tinggal jauh dari orang tua dan harus menyesuaikan diri dengan pola belajar yang lebih disiplin.