Robert Kardinal Optimis Papua Jadi Lumbung Tuna di Kawasan Indonesia Timur
Robert Kardinal optimis Kampung Nelayan Merah Putih dapat mengembalikan keejayaan Papua sebagai lumbung Tuna di Kawasan Timur Indonesia.
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Wahyu Aji
Kala itu, perusahaan pengalengan ikan PT Biak Mina Jaya-anak group Jayanti, mampu mempekerjakan ribuan tenaga kerja asli Papua dan menjadikan Biak Numfor sebagai salah satu pusat industri perikanan terbesar di Indonesia timur.
Dengan dukungan 1.000 hingga 1.500 rumpon yang tersebar di perairan Papua, perusahaan tersebut menjadi pelopor industri perikanan tangkap dan pengalengan ikan di wilayah itu.
Robert juga mengungkap sejarah kejayaan industri perikanan Papua melalui kehadiran perusahaan milik negara PT Usaha Mina di Sorong yang pada masanya mampu mengekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang.
“Dulu di Sorong ada Usaha Mina. Itu perusahaan negara yang ekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang. Setelah berubah menjadi Perikanan Nusantara lalu merger ke Perindo di bawah holding ID Food, akhirnya berhenti beroperasi. Padahal dermaganya siap, lokasinya sangat strategis dan potensinya besar,” katanya.
Robert menjelaskan, PT Usaha Mina pada masa lalu memiliki banyak cabang di sentra-sentra perikanan nasional seperti Sorong, Bacan, Ternate, Fakfak, Ambon, Gorontalo, Luwuk hingga Makassar.
Menurutnya, jejak pembangunan industri perikanan era tersebut harus dihidupkan kembali melalui sinergi KKP dan Kementerian BUMN.
Ia menilai kampung-kampung nelayan yang dibangun Pemerintah nantinya dapat terhubung dengan fasilitas-fasilitas eks Usaha Mina sebagai pusat pengumpulan dan ekspor hasil tangkapan nelayan dari Papua.
Robert juga menyinggung keberadaan PT West Irian Fisheries (WIF), perusahaan perikanan asal Jepang yang bekerja sama dengan pelaku usaha anak asli Papua yang pernah menjadi roda penggerak ekonomi utama di Sorong sejak 1970-an.
Pada masa jayanya, perusahaan itu mengekspor tuna dan udang serta menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
Sayangnya, operasionalnya terhenti setelah kebijakan pembatasan kapal asing diberlakukan sehingga armada tak lagi beroperasi dan pabrik akhirnya tutup.
“Papua pernah punya industri perikanan besar lewat Jayanti, Usaha Mina, dan WIF. Itu bukti bahwa kalau dikelola serius, Papua bisa menjadi kekuatan besar industri perikanan nasional. Kampung Nelayan Merah Putih harus menjadi titik awal menghidupkan kembali kejayaan itu,” tegas Robert.
Saat ini, kata dia, industri pengolahan ikan skala besar di Papua praktis hanya tersisa PT Citra Raja Ampat Canning di Sorong, Papua Barat Daya. Kondisi itu dinilai sangat kontras dengan besarnya potensi sumber daya ikan yang dimiliki wilayah tersebut.
Robert mengungkapkan lemahnya pengawasan di kawasan perairan terluar Papua juga membuat wilayah itu rawan praktik illegal fishing.
Ia bahkan menunjukkan adanya kapal-kapal tanpa izin yang terdampar di Distrik Kepulauan Ayau, Raja Ampat, sebagai bukti maraknya aktivitas penangkapan ikan ilegal.
Menurutnya, keterbatasan armada patroli Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) KKP membuat pengawasan di kawasan perbatasan perairan Papua belum optimal.