Banjir Parigi Moutong Rendam 30 Rumah, BNPB Ungkap Penyebabnya
Banjir Parigi Moutong merendam 30 rumah usai hujan deras, BNPB ungkap penyebab dan peringatan cuaca ekstrem lanjutan.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Banjir Parigi Moutong terjadi setelah hujan deras memicu luapan sungai
- Tiga desa terdampak dengan 30 rumah serta lahan warga ikut terendam
- BNPB meminta kewaspadaan karena hujan dan risiko bencana masih berlanjut
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banjir melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, setelah hujan deras memicu meluapnya aliran sungai hingga masuk ke permukiman warga.
Peristiwa terjadi pada Senin (25/5/2026) sekitar pukul 16.00 WITA dan berdampak di tiga desa.
Tiga Desa Terdampak
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit sungai meningkat dan merusak tanggul.
“Luapan air membanjiri area persawahan, empang, hingga permukiman warga,” ujar Abdul Muhari, Selasa (26/5/2026).
Tiga desa terdampak yakni Desa Sibalago (Kecamatan Toribulu), Desa Tolai (Kecamatan Torue), dan Desa Balinggi Jati (Kecamatan Balinggi).
Sebanyak 30 rumah terdampak, termasuk lahan pertanian dan empang milik warga.
Baca juga: Komisi VI DPR RI Berencana Panggil Direksi PLN Buntut Blackout di Sumatera
Akses Terganggu
Arus banjir sempat mengganggu mobilitas warga. Kendaraan roda dua bahkan dilarang melintas di sejumlah titik terdampak demi keselamatan.
Hingga malam hari, banjir belum surut dan hujan masih berlangsung di wilayah tersebut.
BNPB: Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut
BNPB menyebut bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia hingga akhir Mei 2026.
Dalam sepekan ke depan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di Sumatra, Bangka Belitung, Banten, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Memasuki musim kemarau, BNPB juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
"BNPB mengimbau pemerintah daerah dan juga masyarakat untuk tetap waspada dan siaga terhadap ancaman bahaya bencana karena faktor hidrometeorologi basah maupun kering," pungkas kata Abdul Muhari.
Baca juga: Anggaran Rehab-Rekon Sumatera Capai Rp100,1 Triliun untuk 11.512 Program
.