Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dengar Nilai Cathlyn Calon Paskibraka Cukup, tapi Dicoret, Wali Kota Makassar: Berharap Proses Fair

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, berharap proses seleksi Paskibraka nasional di tingkat Provinsi berjalan fair.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.com - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menanggapi soal dicoretnya nama Cathlyn Yvaine Lesmana sebagai salah satu calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) nasional.

Ia mengaku mendengar kabar perolehan nilai Cathlyn saat seleksi Paskibraka nasional sudah mencukupi.

Karena itu, Munafri prihatin saat tahu Cathlyn batal mewakili Kota Makassar sebagai calon Paskibraka nasional.

"Peserta dari Makassar ada, ini delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada? Kita berharap hasil seleksi semuanya fair (adil)" ujar Munafri, Senin (25/5/2026), dikutip dari Tribun-Timur.com.

"Padahal nilainya siswa (Cathlyn) kabarnya cukup. Jadi, kita berharap benar-benar fair dalam proses ini," imbuh dia.

Berbeda dari Munafri, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Bustanul, mengungkapkan Cathlyn bukan pemilik nilai tertinggi.

Baca juga: Nama Cathlyn Dicoret dari Daftar Paskibraka, Kesbangpol Sebut Seleksi Sudah Sesuai Aturan

Ia juga membantah soal narasi yang mengatakan nama Cathlyn dicoret, meski telah lolos seleksi, dan diganti oleh calon lainnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Tak hanya itu, Bustanul juga menampik kabar yang mengatakan Cathlyn batal lolos sebab tak menguasai bahasa daerah.

"Perlu kami sampaikan, bahwa kata diganti itu adalah sudah ditetapkan terus diganti, logikanya begitu."

"Berarti ada pengumuman dulu, (yang bersangkutan) lolos terus diganti orang baru. Tapi, ada tidak pengumuman yang dimaksud?"

"Kalau pun Makassar mau ngotot menganggap (ada wakil dari Kota Makassar), harusnya kan yang diprioritaskan itu Putri, bukan Cathlyn, karena lebih tinggi nilainya," ujar Bustanul, dilansir Kompas.com.

"Jadi tes kepribadian salah satunya adalah melihat kearifan lokal yang bersangkutan namanya juga mewakili daerah, masa salah ketika kita bertanya tahu bahasa daerah tidak."

"Tetapi, bahasa daerah tau atau tidaknya itu tidak menjadi indikator menggugurkan," lanjutnya.

Bustanul juga menjelaskan soal proses seleksi yang disebut dilakukan secara tertutup.

Ia mengatakan penetapan tiga besar calon Paskibraka nasional telah disaksikan semua peserta.

Ia siap menerima konsekuensi jika pihaknya terbukti melakukan kecurangan dalam proses seleksi calon Paskibraka nasional untuk Provinsi Sulsel.

"Dan, memang pada saat itu memang dikeluarkan semua pendamping dari kabupaten dan hanya seluruh peserta seleksi."

"Kalau kami mau kucing-kucingan tidak perlu ada peserta seleksi di dalam, langsung kami tetapkan, tetapi pada saat itu kita memang lakukan pendalaman betulkah ini nilainya kita cek lagi satu kali, tapi itu disaksikan semua siswa," tuturnya.

"Kalau ada bisa buktikan Cathlyn masuk tiga besar, saya siap apapun risikonya. Logikanya masa kita kasih gugur orang karena bahasa daerah, masuk akal tidak, kita mau kasih gugur orang karena dia Tionghoa, itu tidak," pungkasnya.

PPI Makassar Sebut Ada Kejanggalan

Sebelumnya, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, menilai ada kejanggalan dalam proses seleksi calon Paskibraka.

Ia menilai mekanisme penilaian tidak terbuka.

Sebab, para pendamping dari peserta seleksi tidak diperbolehkan masuk saat penentuan tiga besar calon Paskibraka nasional.

"Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian," ujar Fahmi saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (25/5/2026).

"Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos," sambung dia.

Fahmi juga mempertanyakan indikator penilaian, salah satunya adalah kemampuan menguasai bahasa daerah.

Ia mengatakan hal itulah yang berpengaruh pada kelulusan Cathlyn Yvaine Lesmana.

Padahal, kata dia, Cathlyn menguasa bahasa Inggris dan Mandarin.

Fahmi juga mengaku mendengar kabar tim penilai melakukan penilaian tak sesuai indikator nilai dari PPI Pusat.

"Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?" kata Fahmi.

"Tidak ada aturan baris berbaris menggunakan bahasa daerah, di pusat pun pakai bahasa Indonesia"

"Dari perankingan, adik kita mendekati sempurna nilainya. Hampir seratus, artinya secara kemampuan aman. Tapi pas mengusulkan tiga besar justru turun diganti yang tidak masuk 10 besar," tutur dia.

Meski batal berangkat ke tingkat pusat, Cathlyn dikabarkan tetap bertugas sebagai anggota Paskibraka tingkat Provinsi Sulsel.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W, Tribun-Timur.com/Faqih Imtiyaaz, Kompas.com/Yefta)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas