Pertamax Naik, Warga Blitar dan DIY Ini Tidak Akan Beralih ke Pertalite, Ini Alasannya
Walau demikian, Nita mengaku tetap akan menggunakan Pertamax dan tidak beralih ke BBM jenis Pertalite
Editor:
Erik S
Sebelum ada kenaikan harga, penjualan pertamax di SPBU Jl Kalimantan mencapai 5 ton per hari.
"Dengan kenaikan harga ini pastinya penjualan menurun," ujarnya.
Untuk mengantisipasi konsumen beralih dari pertamax ke pertalite, ia akan mengajukan tambahan pasokan pertalite ke Pertamina.
Biasanya, pasokan pertalite di SPBU Jl Kalimatan sebanyak 16 ton per hari.
Sedang penjualan pertalite di SPBU Jl Kalimantan rata-rata sekitar 15 ton per hari.
"Antisipasi akan ada penambahan pasokan pertalite sekitar 8 ton. Kalau biasanya pasokan pertalite 16 ton per hari, nanti bisa menjadi 24 ton per hari," katanya.
Terpaksa
Gelombang keresahan mulai melanda masyarakat Kota Yogyakarta menyusul keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax secara signifikan.
Burhanadi, seorang karyawan swasta di Kota Yogyakarta, mengaku hanya bisa pasrah sekaligus resah, mengingat penggunaan BBM nonsubsidi dilatarbelakangi oleh keterpaksaan.
"Saya memang konsisten pakai Pertamax. Alasannya, karena menyesuaikan sama jenis motor yang saya pakai, terus antrean Pertalite kan panjang banget. Mau enggak mau, harus tetap ngisi Pertamax meski harganya bikin geleng-geleng," keluhnya, Rabu (10/6/26).
Bagi Burhanadi, kenaikan harga Pertamax yang begitu signifikan ini menjadi beban tambahan bertubi-tubi yang semakin mendesak perekonomiannya.
Pasalnya, sebelum banderol BBM dikerek naik, ia dan keluarganya sudah lebih dulu megap-megap menghadapi lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.
"Ya sebelum Pertamax naik saja harga bahan-bahan pokok sudah melejit. Istriku sudah sambat (mengeluh) dari kemarin-kemarin itu, apa-apa naik, kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Belum lagi token listrik rasanya kok lebih cepat habis sekarang," tuturnya.
Nilai tukar rupiah jadi alarm
Burhanadi bilang, melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini diakuinya sudah menjadi alarm awal yang menakutkan bagi masyarakat kelas pekerja.
Efek domino dari kenaikan BBM pun diprediksi bakal membuat harga barang-barang lain semakin tak terjangkau dan disebutnya lebih meresahkan dibandingkan dengan masa-masa sulit pandemi Covid-19 silam.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Sebagian Pemilik Mobil Tetap Beli karena Regulasi dan Kebutuhan