Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Udara Dingin Trending Topic di Twitter, Benarkah Tanda Kemarau? BMKG Beri Analisisnya

Trending topic di Twitter pada Minggu (26/7/2020) pagi dihiasi kata Dingin, Lawu, Dieng dan hipotermia.

Udara Dingin Trending Topic di Twitter, Benarkah Tanda Kemarau? BMKG Beri Analisisnya
Istimewa
Ilustrasi kedinginan 

"Semakin cerah langit di musim kemarau akan semakin dingin udara dirasakan pada malam dan menjelang pagi hari," kata Herizal saat dihubungi Kompas.com, Minggu (26/7/2020).

Baca: AC Mobil Panas? 5 Tips Keren Ini Bikin Cepat Dingin dan Irit Bensin

Baca: Sapa Kapolres Pulang Pisau, Jokowi Ingatkan Soal Kebakaran Hutan Saat Musim Kemarau

Warganet mengungkapkan cuaca dingin akhir-akhir ini(screenshoot)
Warganet mengungkapkan cuaca dingin akhir-akhir ini(screenshoot) ()

Saat menjelang dan pada puncak musim kemarau, Herizal melanjutkan, langit umumnya cerah di sepanjang hari.

Kondisi ini menyebabkan radiasi Matahari tidak banyak mengalami rintangan untuk masuk permukaan Bumi sehingga suhu pada siang hari menjadi hangat.

Sebaliknya, pada malam hari radiasi Bumi yang lepas ke angkasa juga bisa berlangsung maksimal karena langit yang cerah.

"Akibatnya, ketika malam hari radiasi yang diterima dari Matahari nol, sedangkan radiasi Bumi yang lepas ke angkasa maksimal. Pada kondisi seperti ini kondisi udara pada malam hari menjelang dan pada puncak kemarau lebih dingin dibanding kondisi udara malam hari di musim hujan," papar Herizal.

Baca: Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, 26 Juli 2020: Yogyakarta dan Bandung Cerah Berawan Sepanjang Hari

Baca: Jelang Musim Kemarau, BMKG Sarankan Pemerintah Rencanakan Upaya Pencegahan Karhutla

Uap air di atmosfer dan kecepatan angin
Sementara itu, prakirawan cuaca BMKG Nanda Alfuadi menyebut bahwa udara dingin yang terjadi di malam menjelang pagi hari, ada dua hal yang mempengaruhi.

Dua hal tersebut yakni kandungan uap air di atmosfer dan kecepatan angin.

"Kandungan uap air di atmosfer yang cukup rendah di wilayah Indonesia bagian selatan dalam beberapa pekan ini menyebabkan radiasi gelombang panjang dari Bumi, yang dapat menghangatkan atmosfer Bumi lapisan bawah, terlepas ke angkasa," kata Nanda.

Sehingga, energi yang digunakan untuk menghangatkan atmosfer di lapisan bawah akan lebih kecil dibandingkan ketika kandungan uap air di atmosfer relatif cukup banyak.

Hal ini secara kasat mata, lanjut Nanda, juga terlihat dari berkurangnya tutupan awan dalam beberapa pekan ini dibandingkan dengan bulan lalu.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas