NASA Kirim Astronaut ke Bulan Setelah 50 Tahun, Buka Babak Baru Eksplorasi
NASA kembali ke Bulan lewat misi Artemis II, membawa 4 astronaut dalam penerbangan bersejarah
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- NASA meluncurkan misi Artemis II sebagai penerbangan berawak ke Bulan pertama dalam lebih dari 50 tahun. '
- Empat astronaut diterbangkan dengan roket Space Launch System dan kapsul Orion
- Misi ini menjadi langkah awal menuju pendaratan manusia di Bulan dan eksplorasi Mars.
TRIBUNNEWS.COM, AMERIKA SERIKAT - Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, resmi meluncurkan misi berawak ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun melalui misi Artemis II.
Roket Space Launch System (SLS) lepas landas dari Kennedy Space Center pada Rabu (1/4/2026) pukul 18.35 waktu setempat, membawa empat astronaut di dalam pesawat ruang angkasa Orion untuk menjalani misi uji terbang mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi.
Dikutip dari situs Nasa, misi ini dipimpin oleh Reid Wiseman bersama Victor Glover, Christina Koch, dan astronaut Kanada Jeremy Hansen.
“Peluncuran ini menandai momen penting bagi eksplorasi manusia. Artemis II membuka babak baru setelah era Apollo,” ujar Administrator NASA, Jared Isaacman.
Sebagai misi berawak pertama dalam program Artemis, penerbangan ini bertujuan menguji sistem pendukung kehidupan dengan awak manusia serta menjadi fondasi bagi kehadiran jangka panjang di Bulan dan misi ke Mars.
Baca juga: Bumi Kehilangan Gravitasi 7 Detik pada Agustus? Proyek Anchor NASA dan Kemunculan 2 Lubang Hitam
Tahap Awal Misi
Setelah mencapai luar angkasa, Orion membuka panel surya untuk memperoleh energi dari Matahari.
Awak bersama tim di pusat kendali langsung melakukan transisi ke operasi penerbangan dan memeriksa sistem utama.
Sekitar 49 menit setelah peluncuran, tahap atas roket melakukan pembakaran untuk menempatkan Orion ke orbit elips di sekitar Bumi.
Pembakaran berikutnya akan mendorong Orion ke orbit tinggi hingga sekitar 74.000 kilometer dari Bumi sebelum akhirnya terpisah dan melanjutkan perjalanan secara mandiri.
Dalam beberapa jam berikutnya, roket juga akan melepaskan empat satelit kecil (CubeSats) dari berbagai negara untuk melakukan penelitian ilmiah dan demonstrasi teknologi.
Pesawat akan berada di orbit tinggi Bumi selama sekitar satu hari.
Dalam fase ini, awak akan melakukan uji kendali manual untuk menguji kemampuan manuver Orion, sembari memastikan seluruh sistem—mulai dari propulsi hingga pendukung kehidupan—berfungsi optimal.
Mereka juga menyiapkan kabin sebagai ruang kerja dan tempat tinggal selama misi berlangsung.
Jika seluruh sistem dinyatakan aman, Orion akan melakukan manuver penting trans-lunar injection pada Kamis (2/4/2026), yakni dorongan selama sekitar enam menit untuk keluar dari orbit Bumi menuju lintasan Bulan.
Perjalanan menuju Bulan diperkirakan memakan waktu sekitar empat hari, dengan lintasan unik berbentuk angka delapan di ruang angkasa.
Selama fase ini, kru akan terus memantau kondisi pesawat untuk memastikan semua sistem berjalan stabil.
Saat melintas di dekat Bulan pada Senin (6/4/2026), para astronaut akan melakukan pengamatan langsung serta mengambil gambar permukaan Bulan, termasuk sisi jauh yang jarang terlihat.
Kondisi pencahayaan yang unik diperkirakan akan memperjelas bentuk kawah, lereng, dan struktur permukaan Bulan.
Selain itu, misi ini juga mencakup berbagai penelitian ilmiah terkait kesehatan manusia di luar angkasa yang akan menjadi dasar bagi misi-misi berikutnya.
Setelah menyelesaikan penerbangan mengelilingi Bulan, Orion dijadwalkan kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik.
Baca juga: Astronot Pertama Indonesia Pratiwi Sudarmono Jadi Inspirasi Film Pelangi Di Mars
Langkah Awal Kembali ke Bulan
Misi Artemis II merupakan bagian dari program besar NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan, setelah terakhir kali dilakukan pada 1972.
Keberhasilan misi ini akan menjadi fondasi bagi pendaratan manusia di Bulan pada misi berikutnya, sekaligus membuka jalan bagi eksplorasi lebih jauh, termasuk ke Mars.
Di tengah ambisi global, misi ini juga menandai langkah strategis Amerika Serikat dalam mempertahankan posisi dalam perlombaan eksplorasi antariksa, seiring target negara lain seperti China yang berencana mendaratkan manusia di Bulan pada dekade mendatang.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.