Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Penjelasan BMKG Soal Fenomena Tsunami Akibat Longsoran dan Erupsi Gunung Api yang Sangat Langka

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjelaskan mengapa persitiwa tsunami akibat longsoran dan erupsi gunung api merupakan fenomena langka.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Sri Juliati
zoom-in Penjelasan BMKG Soal Fenomena Tsunami Akibat Longsoran dan Erupsi Gunung Api yang Sangat Langka
Tribunnews/JEPRIMA
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan mengapa persitiwa tsunami akibat longsoran dan erupsi gunung api merupakan fenomena langka. Menurut BMKG, dari seluruh data peristiwa tsunami di dunia, tsunami yang disebabkan oleh longsoran hanya 3% dan yang disebabkan oleh erupsi gunung api hanya 5%. 

Menyusutnya tinggi gunung yang terletak di Selat Sunda ini telah dikonfirmasi Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo.

Baca: Gempa di Filipina, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

"Bahwa pada sekitar 14.18 WIB kemarin sore terlihat, terkonfirmasi, Gunung Anak Krakatau jauh lebih kecil dari sebelumnya," ujar dia ketika memberikan paparan kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12/2018), seperti dikutip Tribunnews.com dari Kompas.com.

Penyusutan tinggi Gunung Anak Krakatau juga diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugrohio lewat akun Twitternya.

Sutopo mengungkapkan volume Gunung Anak Krakatau hilang 150 hingga 170 juta meter kubik.

Menurut Sutopo, menyusutnya tinggi Gunung Anak Krakatau disebabkan karena proses tubuh dan erosi selama 24 hingga 27 Desember 2018.

Baca: Dua Kali Gagal Beri Deteksi Dini, Dosen UGM Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi Agar BMKG Dirombak

"Perubahan tubuh Gunung Anak Krakatau.

PVMBG memperkirakan yang semula tinggi 338 meter, saat ini 110 meter.

Rekomendasi Untuk Anda

Volume Anak Krakatau hilang 150-170 juta m3.

Volume saat ini 40-70 juta m3.

Berkurangnya volume tubuh GAK disebabkan proses rayapan tubuh & erosi selama 24-27/12/2018," tulis Sutopo dalam Twitter miliknya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas