Wawancara Khusus Nova dengan Indy Rahmawati
Usai urun rembug dan mediasi di kantor Dewan Pers, akhirnya presenter
Editor:
Tjatur Wisanggeni
Selain dukungan, Anda juga mendapat banyak kritikan di Facebook? Tanggapan Anda?
Biarkan saja, mereka, kan, punya hak untuk bicara seperti itu.
Sempat menangis ketika dapat masalah ini?
Ya, terutama ketika curhat kepada Allah. Aku bertanya-tanya, kenapa masalah ini harus menimpaku. Padahal, kami semua, dalam satu tim, bersama-sama mengeritik pihak yang sama, dari arus yang sama. Tapi kenapa aku yang terpilih menjalani ini? Aku terus mempertanyakan rencana Allah untukku.
Aku lalu cerita ke ayah, Rahmat Aziz, yang kebetulan punya pemahaman lebih tentang agama. Dia bilang, jangan terus bertanya seperti itu. Aku harus fokus pada masalahnya. Ucapan ayahku itulah yang selalu menenangkan jiwaku dalam menghadapi permasalahan ini. Aku yakin, ada hikmah di balik semua ini. Meski sedih, tapi di hadapan orang aku pantang menangis karena yakin aku tidak bersalah. Kalau enggak begitu, bisa-bisa aku gila.
Jadi, selama 11 tahun berkarier, baru kali ini dapat masalah?
Betul! Aku enggak pernah menyangka akan diterpa masalah seperti ini dan ini memang baru pertama kali terjadi. Tapi aku percaya, untuk bisa “naik kelas”, pasti ada ujian terlebih dahulu. Enggak mungkin bisa langsung lulus dan berhasil. Meski ini sangat melelahkan, bagiku setiap hari adalah ujian yang harus kulalui. Tapi seru juga, karena hikmahnya aku jadi lebih menghayati pekerjaanku sebagai wartawan.
Sudah dapat panggilan dari pihak Kepolisian?
Undangannya sudah aku terima. Senin (19/4/2010) aku dipanggil ke Bareskrim sebagai saksi, disusul Rabu (21/4) akan ada mediasi. Tapi, toh, di satu sisi aku merasa excited karena tidak semua wartawan bisa mengalami hal seperti ini. Difitnah, diomongin orang, aku enggak peduli.
Dalam bentuk apa keluarga mendukung?
Keluarga sangat mendukung. Suamiku (dr. Tedy Sadeli, Red.) pernah bilang, “Bicaralah sesuai omongan dan jangan berubah hanya karena ingin menyenangkan orang.” Aku bangga pada suamiku karena selama permasalahan ini membelitku, dia benar-benar menunjukkan perhatiannya. Dia sampai rela bolak-balik Bandung, tempatnya bekerja, ke Jakarta, khusus untuk men-support aku.
Apa yang sudah Anda persiapkan?
Pertama, sudah pasti, segala hal buruk. Termasuk kemungkinan sampai masuk penjara. Tapi aku senang dengan adanya mediasi. Bagiku ini sebuah kemajuan luar biasa. Aku lega. Setidaknya akan lebih banyak kesempatan bertukar pikiran dengan banyak pihak berwenang. Tapi, lagi-lagi, aku tetap bersyukur, karena melalui ini semua aku berjanji akan lebih lebih hati-hati dan akan melakukan banyak introspeksi ke depannya.
Ada teror yang Anda terima?
Setelah kasus ini makin ramai, banyak telepon tidak dikenal yang masuk ke handphone-ku, tapi aku enggak mau angkat. Teror dalam bentuk fisik, sih, enggak ada, tapi beberapa hari setelah tayangan itu, ada gelagat aneh dari beberapa orang. Mereka berkumpul dan kasak kusuk ke kru kami. Sempat juga parno (paranoid, Red.) saat nyetir, seperti ada yang ngikutin.
Sampai begitu, ya?
Ya. Rasanya aneh karena sebelumnya aku selalu berpikir sendiri, terbiasa mandiri, dan jarang mau berbagi dengan orang lain. Tapi menghadapi teror, apa pun bentuknya, aku sudah menyiapkan mental sebaik mungkin. Benar apa yang dikatakan temanku, “Berita baik tidak perlu persiapan diri, tapi berita buruk harus persiapan mental.”
Dendam kepada Andris?
Aku justru sempat jatuh kasihan kepadanya. Aku bertanya, kenapa dia tega melakukan semua ini? Kenapa dia tidak konsisten terhadap apa yang diceritakannya ke kami? Tapi aku tidak membencinya. Mungkin dia punya alasan tertentu yang kami tidak tahu. Lagipula, kalau aku menanam kebencian, aku juga yang merasakan dampak buruknya.
Bagaimana rekan kerja mendukung Anda?
Aku banyak mendapat doa dan dukungan. Malah ada yang mau bantu menangani kasusku. Intinya, aku harus tetap rendah hati dan tidak menjadi khawatir. Mulai dari Armand Maulana, Badai Keris Patih, Aviliani, teman-teman di Antv, sampai Iham Bintang. Mereka semua benar-benar menaruh simpati. Alhamdulillah. Karena kalau enggak ada orang-orang seperti itu, rasanya berat sekali.