Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Banyak Lagu Berbahasa Daerah Jadi Viral, Upiak Isil Bangga Publik Makin Minati Budaya Lokal

Sejumlah lagu berbahasa daerah mendapat respon positif dari masyarakat belakangan ini. Sebut saja sejumlah lagu jawa dari Didi Kempot.

Banyak Lagu Berbahasa Daerah Jadi Viral, Upiak Isil Bangga Publik Makin Minati Budaya Lokal
Warta Kota
Upiak Isil 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah lagu berbahasa daerah mendapat respon positif dari masyarakat belakangan ini. Sebut saja sejumlah lagu jawa dari Didi Kempot.

Demamnya hingga meluas seantero negeri dengan banyaknya masyarakat dari berbagai daerah yang membawakan ulang atau mengcover lagu-lagu milik The Godfather of Broken Heart tersebut.

Belakangan juga muncul penyanyi-penyanyi muda dengan lagu-lagu Jawa yang bikin "ambyar", sebut saja Denny Cak Nan dengan lagu Kartonyono Medot Janji, Ndarboy Geng dengan lagu Balungan Kere, Ilux ID dengan lagu Mundur Alon-alon dan banyak lagi.

Bahkan, penyanyi Via Vallen yang menyanyikan ulang lagu-lagu viral itu turut ketiban berkah karena setiap video yang diunggah ke jejaring Youtube dilihat jutaan bahkan puluhan juta orang.

Baca: Didi Kempot Gelar Konser Eksklusif 7 Februari di Jakarta, Wajib Nonton Biar Kamu Gak Ambyar!

Sebelumnya, lagu milik Dian Sorowea berjudul Karena Su Sayang yang mengusung bahasa daerah Nusa Tenggara Timur juga viral seantero negeri.

Jika ditarik ke belakang lagi, lagu Tak Tun Tuang yang dibawakan penyanyi asal Minang, Silvia Nanda atau yang lebih di kenal dengan nama Upiak Isil bahkan kondang hingga negara tetangga.

Menyikapi hal ini, Upiak Isil mengaku gembira. Menurutnya, saat ini masyarakat, termasuk generasi muda, lebih bisa mengapresiasi musik-musik bernuansa daerah dan berbahasa daerah.

"Sepertinya peminat musik dan para pendengar lagu saat ini sudah mulai paham dan menyukai musik daerah dan berbahasa daerah, bukanya daerahnya sendiri saja. Saya kira ini jadi kabar baik bagi kita semua," ujar Upiak kepada Warta Kota di Kebayoran Baru, Jumat (24/1).

Upik menilai, fenomena seperti ini tidak lepas dari upaya sang musisi dalam menyajikan musik-musik yang berpotensi diterima oleh pasar dan memiliki karakteristik yang kuat sehingga mudah melekat dalam hati dan benak pendengarnya.

Ia memisalkan, Didi Kempot yang membawakan lagu-lagu patah hati dalam balutan lirik dan musik yang easy listening. Termasuk dengan maraknya Cendol Dawet yang kemudian trending dan dikenal masyarakat seantero negeri.

Juga Dian Soworea yang mengemas lagu cinta dan melankolis dalam bahasa daerah NTT yang kemudian masyarakat menyukainya.

"Paling penting adalah konsistensi dan aransemen musiknya. Kalau saya pribadi tetap mengusung musik-musik aransemen lucu dengan bahasa yang unik, ada dengan bahasa Minang atau gabungan bahasa Indonesia dan Minang. Mulai dari penasaran, akhirnya orang mau dengarkan dan bisa suka," ungkapnya.

Tetapi, Upiak menegaskan, semuanya kembali lagi ke nasib. Ia menyebut, sebuah lagu bisa viral biasanya karena dipicu oleh sejumlah hal. Upiak pun mengaku sebenarnya ia sudah punya banyak lagu, meskipun tidak semuanya dikenal oleh masyarakat luas.

"Kayak kemarin aku bikin malah dengan tiga bahasa, aku nyinden, Indonesia dan Minang, aku jadiin satu. Tapi kembali lagi kepada nasib. Kalau nggak viral ya begitu-begitu aja, nggak banyak didengar orang," ungkapnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas