Kenangan Raisa dan Ibunda, Sentuhan Penuh Cinta di Ranjang RS saat Sang Putri Hadapi Perceraian
Ibunda Raisa, Ria Mariaty meninggal dunia. Layaknya ibu, banyak kenangan yang ditinggalkan sang ibu di sepanjang hidup Raisa
Penulis:
Anita K Wardhani
“Beberapa hari kemudian, hasilnya mengonfirmasi ketakutan terburuk kami, dia menderita kanker paru-paru stadium 4 dan sudah menyebar ke beberapa tulang,” ungkap Rinaldi.
Meski demikian, perawatan intensif telah dilakukan dan sempat menunjukkan perkembangan yang positif.
“Ibu terus menunjukkan kekuatan yang luar biasa dan kepositifan yang tak tergoyahkan dalam perjuangan pemulihannya. Kehendaknya yang kuat telah memberikan seluruh keluarga kami kekuatan ekstra untuk menghadapi perjalanan ini bersama,” tulis Rinaldi lagi.
Sentuhan Lembut Penuh Cinta Ibu di Masa Sulit Raisa dan Hamish Daud
Raisa beberapa waktu terakhir lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendampingi sang ibu di masa-masa sulit kehidupan rumah tangganya dan Hamish Daud.
Diketahui, Raisa menggugat cerai suaminya itu dan sidang sudah digelar sejak 3 November 2025 lalu.
Beberapa unggahan di media sosial memperlihatkan Raisa kerap menemani ibunya, ditemani oleh sang ayah dan kakaknya, Rinaldi Pratama.
Dalam sejumlah video yang diunggah oleh Rinaldi, terlihat momen kebersamaan keluarga kecil tersebut di rumah sakit maupun di rumah.
Pada Oktober 2025 lalu, kakak Raisa, Rinaldi Nurpratama sempat mengunggah video di Instagram Story yang memperlihatkan kondisi ibunya.
Ria tampak terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai selang yang menempel di tubuh.
Raisa pun setia mendampingi sambil mencium tangan ibunya.
Ia terus memberikan support agar Ria tetap semangat.
Sementara Ria tetap mengelus rambut sang anak meski kondisinya sedang lemah.
"Compassion, itu yang Ibu ajarkan kepada kami, bukan lewat kata2, tapi lewat caranya mencintai, bahkan di tengah sakitnya sendiri.
Sehabis operasi, di saat tubuhnya terbaring lemah, dengan ventilator menempel di dadanya, Ibu tetap berusaha mengangkat tangannya… untuk mengelus rambut anaknya. Masih sempat membelai wajah dan jemari kami, seolah ingin berkata, “Tenang ya, Nak. Ibu masih di sini.”
Baca tanpa iklan