Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Lupus Bisa Picu Trombosit Turun hingga Sering Disangka DBD atau Malaria, Ini Bedanya

Lupus bukan hanya menyerang satu organ, melainkan dapat melibatkan hampir seluruh sistem tubuh, termasuk darah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Lupus Bisa Picu Trombosit Turun hingga Sering Disangka DBD atau Malaria, Ini Bedanya
Canva/Tribunnews
HARI LUPUS SEDUNIA - Gambar dibuat di Canva, Sabtu (10/5/2025). Berikut ini 25 poster Hari Lupus Sedunia yang diperingati pada 10 Mei. 

Pada malaria, demam hadir dalam pola khas yang dikenal sebagai trias malaria, yaitu fase dingin, demam, dan berkeringat.

Sementara itu, demam pada lupus memiliki karakter berbeda. 

“Demam pada SLE itu hanya yang sifatnya meriang-meriang. Meriang, jadi nggak terlalu tinggi,” jelas dr. Santi.

Demam pada lupus cenderung tidak konsisten dan dapat berulang dalam jangka waktu lama. 

Pasien bisa mengalami demam ringan yang hilang sendiri, lalu muncul kembali beberapa hari atau minggu kemudian. 

Pola naik-turun ini berbeda dengan demam infeksi yang umumnya berlangsung singkat, sekitar tiga hingga tujuh hari, lalu sembuh tanpa demam ulangan.

Perempuan Usia Produktif Perlu Waspada

Dari sisi epidemiologi, lupus lebih sering menyerang perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada usia produktif 20–40 tahun. 

Rekomendasi Untuk Anda

Karena itu, ketika perempuan muda mengalami demam berulang disertai trombosit turun, penyebab autoimun perlu ikut dipertimbangkan, bukan hanya infeksi.

Dr. Santi menekankan bahwa demam berkepanjangan yang tidak kunjung jelas penyebabnya seharusnya menjadi alarm untuk pemeriksaan lanjutan. 

“Kalau pada SLE, demamnya itu bisa berkepanjangan. Dan itu naik turun,” ujarnya.

Gejala Tambahan yang Perlu Diperhatikan

Selain demam dan trombositopenia, lupus memiliki spektrum gejala klinis lain yang luas. 

Nyeri sendi merupakan keluhan paling sering ditemukan, disusul rontok rambut yang tidak wajar. 

Rambut rontok pada lupus biasanya jauh melebihi batas normal dan terjadi hampir setiap hari.

Gejala lain yang dapat menyertai antara lain kelelahan berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga kemerahan di pipi yang muncul setelah terpapar sinar matahari, yang dikenal sebagai malar rash. 

Kombinasi gejala inilah yang seharusnya meningkatkan kecurigaan terhadap lupus.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas