Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Seleb
LIVE ●

Sosok Muhammad Suryo, di Balik Konser Slank 10 Kota yang Digelar dengan Tiket Masuk Gratis

Kesuksesan rangkaian tur konser Slank bertajuk "HEY… SLANK x HS Berani Kita Beda" tak lepas dari peran Muhammad Suryo.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Willem Jonata
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Sosok Muhammad Suryo, di Balik Konser Slank 10 Kota yang Digelar dengan Tiket Masuk Gratis
HO/IST
KONSER SLANK - Muhammad Suryo, bersama Bimbim dan Kaka Slank, dalam jumpa pers konser Slank. Suryo merupakan sosok di balik konser Slank yang digelar di 10 kota di Indonesia dengan tiket masuk gratis. 
- transpose +
Ringkasan Berita:
  • Slank adalah salah satu band papan atas Indonesia
  • Muhammad Suryo berinisiatif menggelar konser Slank 10 kota di Indonesia dengan tiket masuk gratis, mengingat band tersebut punya massa fans yang cukup banyak
  • Suryo teringat masa lalunya saat bertemu dengan mahasiswa dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang baru saja dilanda bencana
  • Sosok di Balik Konser Slank 10 Kota di Indonesia yang Digelar dengan Tiket Masuk Gratis

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejak Oktober tahun grup band Slank menjalani rangkaian tur 10 kota di Indonesia.

Dan yang menarik semua perhelatan tersebut digelar dengan menawarkan tiket masuk gratis.

Tiga konser di tiga kota, antara lain Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang, sudah digelar dan sukses.

Sementara di Denpasar, Bali, konser Slank dijadwalkan digelar pada 27 Desember. Kemudian akan disusul Lampung, Bandung, Malang, Jakarta, Cirebon, dan Banyuwangi.

Kesuksesan rangkaian tur konser Slank bertajuk "HEY… SLANK x HS Berani Kita Beda" tak lepas dari peran Muhammad Suryo.

Ia tampak tertegun berhadapan dengan belasan mahasiswa asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, jelang persiapan konser Slank di Semarang, Minggu (14/12/2025).

Bukan sekadar penyerahan bantuan secara seremonial, momen itu berubah menjadi suasana haru.

Bagi Suryo, melihat para mahasiswa perantau yang daerah asalnya dilanda bencana, mengingatkan pada masa lalunya yang tak mudah. 

Saat mahasiswa, Suryo harus berjuang demi menggapai cita-cita di perantauan.

Orang tuanya hanya seorang guru sekolah dasar di Bengkulu. Penghasilan mereka tak bisa jadi tumpuan bagi Suryo memenuhi kebutuhan di tanah orang.

Pada tahun 2002, saat menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk kuliah di UPN, ia harus berbagi kamar kos sempit ukuran 3x3 meter dengan tiga orang temannya.

Tanpa kasur, hanya beralas karpet tipis.

Namun, titik balik mentalnya terjadi bukan saat ia hidup susah, melainkan saat ayahnya menjual kebun keluarga agar bisa beli sepeda motor Honda Kharisma untuknya agar semangat kuliah.

"Dada saya sesak saat tahu motor itu dari hasil jual kebun. Saya kembalikan motornya, saya hanya ambil Rp 5 juta sebagai modal awal (usaha), dan saya berjanji tidak akan meminta uang sepeser pun lagi pada orang tua," kenang Suryo.

Ini menjadi titik nol Suryo memulai perjalanannya sebagai pebisnis.

Bermodal Rp 5 juta, ia mendirikan usaha air isi ulang Reverse Osmosis (RO) sembari proses kuliah. Kebetulan saat itu peralatannya masih murah.

Siang malam ia memutar otak untuk bertahan hidup.

Di kala teman-teman kuliahnya menikmati masa bersenang-senang, nongkrong, pacaran, dan aktivitas anak muda kebanyakan, Suryo memilih bergelut dengan keran air. Hingga malam, ia memelototi pembukuan kecil dan menghitung sisa modal.

“Pikiran saya saat itu cuma bisnis, uang, uang, dan uang,” katanya.

Di sela-sela usaha galon, ia pun tak mau membuang waktu. Suryo mencari tambahan lain sebagai sopir mobil rental di Jogja.

Ia bekerja nyaris tanpa memperhatikan jam istirahat. Pagi antar pesanan air mineral, malam atau saat ada waktu luang ia gunakan untuk mengantar penumpang. “Saya termasuk orang yang kehilangan kesenangan masa muda,” tutur dia.

Dari dua usaha itu, ia hendak membuktikan kepada orang tuanya tentang kemandirian.

 “Saya bisa mendapatkan penghasilan bersih di kisaran Rp 3 juta per bulan. Jumlah ini cukup besar untuk ukuran mahasiswa di era 2000-an,” bebernya.

Pergaulannya kemudian semakin luas. Dari langganan galon, pelanggan rental, hingga kenalan-kenalan baru yang ditemuinya saat beraktivitas. Menurutnya, setiap orang yang ditemui adalah pintu peluang mengembangkan usaha. 

Hal itu menjadi rumus baru untuk mendorong bisnisnya cepat berkembang. Mobil pertama dibeli dengan cara kredit. Ini menjadi debut baru Suryo menapaki bisnis lain yaitu rental mobil sendiri. Tak butuh waktu lama, disusul mobil kedua dan ketiga.

“Semua saya rentalkan,” kata dia.

Namun, bisnisnya kali ini tak berjalan mulus. Ia ditipu rekan kerja. Uang Rp 40 juta dibawa kabur.

Terpaksa, salah satu dari tiga mobilnya dijual untuk menyelamatkan usahanya. Ditambah lagi saat usahanya terpuruk, terjadi gempa dahsyat di Yogyakarta 2006.

Banyak rumah runtuh, nyaris semua aktivitas bisnis mandek, ribuan nyawa tewas dalam peristiwa kelam itu.

Di tengah ketidakpastian itu, tiba-tiba Suryo dihubungi oleh aktivis Non-Governmental Organization (NGO) internasional dari Inggris.

“Saya diminta menyediakan mobil operasional distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa,” katanya.

Selama berbulan-bulan, mobil rental miliknya bekerja tanpa henti. Dari sana, ia menemukan bahan bakar baru untuk kembali memperbesar bisnis rental mobilnya.

“Mulai 2007, saya mampu mengangsur empat mobil setiap bulan,” terangnya.

Bisnis rental Suryo semakin sukses. Pada 2008, Suryo melebarkan bisnis ke bidang lain yang lebih besar, yakni dealer mobil. Saat itu, ia dipercaya menjadi agen tunggal Hyundai Truck di Bengkulu.

Namun keputusan besar itu tak selalu sesuai harapan. Alhasil, bukannya untung, Suryo malah buntung.

Dealer yang dimodali uang Rp 10 miliar malah tumbang. Ia menanggung utang Rp 26 miliar.

“Saya down,” kenangnya.

Saat kembali tersungkur, satu-satunya jangkar yang menjadi tambatan agar tak hilang tertelan gelombang adalah doa orang tua.

Suryo belajar memahami bahwa setiap kegagalan bukan berarti kiamat, tapi menjadi petunjuk untuk mengubah rute hidup yang salah alamat.

“Terus berjuang, bekerja, dan tidak menyerah. Kelak, hidup itu seperti jet coaster. Menegangkan, kadang di atas, kadang di bawah, dan segera bergerak cepat mencari jalan keluar,” katanya.

Di usianya yang menginjak 41 tahun, pengusaha muda ini mulai diperhitungkan di lingkaran konglomerat Indonesia.

Di bawah PT Surya Group Holding Company, Suryo membawahi sejumlah perusahaan besar yang melibatkan ribuan karyawan. Salah satu perusahaan yang saat ini berkembang pesat adalah Rokok HS.

“Prinsip saya, usaha harus bermanfaat bagi orang banyak. Usaha yang padat karya, salah satunya perusahaan rokok,” beber suami Anis Syarifah ini.

Solidaritas Korban Bencana

Momen haru pemberian bantuan kepada mahasiswa Aceh, Sumut, dan Sumbar di Semarang kemarin bukanlah aksi spontan tanpa alasan.

Suryo memiliki ikatan emosional dengan isu bencana. Bisnis rental mobilnya yang sempat hancur justru "bersemi" kembali saat gempa Jogja 2006, di mana mobil-mobilnya digunakan untuk distribusi logistik kemanusiaan oleh NGO internasional.

"Saya tahu rasanya menjadi mahasiswa perantau yang sedang berjuang, lalu diuji lagi dengan kabar bencana di kampung halaman. Rasanya sangat berat," ungkap pria kelahiran 27 Maret 1984 ini.

Kini, melalui industri padat karya seperti pabrik rokok HS di Muntilan yang menyerap 3.000 tenaga kerja, Suryo ingin membuktikan bahwa bisnis bukan sekadar angka di pembukuan, tapi soal berapa banyak orang yang bisa ikut "hidup" dari sana.

Baca juga: Ikut Dalam Konser Amal Bantu Korban Bencana Sumatera, Kaka Slank Singgung Pentingnya Fungsi Hutan

Perjalanan dari kamar kos 3x3 menuju kursi pimpinan holding company ini menjadi pengingat bagi para mahasiswa yang dia bantu, bahwa takdir tidak ditentukan oleh seberapa tipis karpet tempat kita tidur hari ini, melainkan seberapa tebal tekad untuk menembus batas diri sendiri. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas