Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Broken Strings Bukan Balas Dendam Aurelie Moeremans, Tapi Ruang Healing & Berdamai dengan Masa Lalu

Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth viral. Ini maksud Aurelie Moeremans maksud di balik tertulisnya memoar tersebut.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Broken Strings Bukan Balas Dendam Aurelie Moeremans, Tapi Ruang Healing & Berdamai dengan Masa Lalu
Kolase Tribunnews.com
BUKU AURELIE MOEREMANS - Aurelie Moeremans bercerita pada Tribunnews.com tentang Broken Strings, buku yang ramai jadi buah bibir karena ungkap sisi kelamnya di masa lalu. 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana

Ringkasan Berita:
  • Buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth yang ditulis Aurelie Moeremans viral. 
  • Aurelie Moeremans ungkap maksud di balik tertulisnya memoar tersebut.
  • Aurelie menjadikan Broken Strings sebagai ruang refleksi dan healing, bukan balas dendam karena trauma masa lalu.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth viral, terungkap maksud Aurelie Moeremans maksud di balik tertulisnya memoar tersebut.

Baca juga: Broken Strings Viral, Aurelie Moeremans Sempat Merasa Bersalah: Apakah Aku Terlalu Jauh?

Buku ini ditulis bukan untuk membuka luka lama, apalagi sebagai bentuk balas dendam atas pengalaman pahit yang pernah ia alami di masa remajanya itu.

Aurelie menjadikan Broken Strings sebagai ruang refleksi dan healing dalam memahami serta menerima masa lalu yang penuh trauma.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal yang jadi fokus Aurelie dalam bukunya itu adalah pengalaman menjadi korban child grooming di usia remaja.

Baca juga: Reaksi Tyler Bigenho saat Kali Pertama Baca Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans, sang Istri

“Iya, sangat (membantu),” ujar Aurelie Moeremans kepada Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).

"Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku," jelasnya.

Aurelie menekankan bahwa proses berdamai tidak berarti menghapus rasa sakit atau membenarkan kesalahan yang pernah terjadi. 

Ia justru ingin menempatkan pengalaman tersebut secara jujur, tanpa manipulasi emosi, dan tanpa menyalahkan dirinya sendiri.

“Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah,” tegasnya.

Dengan menuangkannya dalam bentuk buku, ia bisa melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang lebih dewasa dan berjarak.

Ia tak menyangka jika buku yang dirilis pada 2025 kemarin itu menjadi viral di awal tahun 2026 ini dan mendapat banyak dukungan.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas