Poppy Diharjo Sebut Arah Child Grooming ke Seksual, Viral usai Buku Broken Strings Aurelie Moeremans
Berikut ini pandangan Pegiat Isu Perempuan Poppy R Diharjo soal isu Child Grooming di buku Aurelie Moeremans.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans menarik perhatian publik karena mengangkat pengalaman pahit masa lalu
- Memicu empati dan dukungan, termasuk dari penyanyi Andien yang menyuarakan solidaritas kepada para korban grooming.
- Pegiat isu perempuan Poppy R Diharjo menjelaskan bahwa child grooming adalah upaya pelaku mengondisikan anak untuk patuh dengan tujuan seksual atau relasi romantis, bukan sekadar pertemanan biasa.
TRIBUNNEWS.COM - Pegiat Isu Perempuan Poppy R Diharjo memberikan penjelasan terkait isu child grooming yang muncul bersamaan dengan viralnya buku milik Aurelie Moeremans yakni Broken Strings.
Diketahui buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans banyak disorot. Buku tersebut menceritakan terkait masa lalu 'pahit' sang artis.
Buku tersebut menarik empati banyak pihak, tak terkecuali sesama kalangan publik figur, satu di antaranya penyanyi, Andini Aisyah Haryadi atau Andien.
Melalui unggahan di media sosial, Andien menyebut bahwa buku itu mengingatkannya dengan pengalaman kekerasan dalam hubungan yang ia pernah alami.
Ia menyampaikan dukungan kepada Aurelie dan para korban 'grooming' lainnya.
"Terima kasih,@aurelie untuk Broken Strings. Aku percaya luka yang diakui, dan pemulihan yang dijalani dengan jujur akan berbuah baik. Doaku untukmu dan semua perempuan yang pernah (atau sedang) menjadi korban. Semoga yang pernah patah kini menemukan napasnya kembali," tulisnya dalam unggahan di akun instagramnya.
Child Grooming: Tujuan Seksual
Sementara itu, Pegiat Isu Perempuan Poppy R Diharjo menjelaskan bahwa child grooming merupakan upaya pelaku untuk mengondisikan anak agar patuh dan mengikuti keinginannya.
Yang umumnya mengarah pada tujuan seksual atau relasi romantis, bukan sekadar pertemanan biasa.
"Lebih ke arah seksual atau ke arah relasi romantis bukan berteman atau dekat saja, jadi berteman atau dekat itu belum tentu child grooming," ujarnya mengutip tayangan YouTube TVOnenews, Kamis (15/1/2026).
Menurut Poppy, kedekatan atau pertemanan saja tidak serta-merta dapat disebut sebagai child grooming.
Baca juga: SEDANG TRENDING: Topik Aurelie Moeremans, Konser BTS, hingga Laras Faizati
Namun, ketika relasi tersebut dibangun secara perlahan dengan tujuan manipulatif dan mengarah pada eksploitasi, maka hal itu sudah masuk dalam kategori child grooming.
Ia menekankan bahwa proses ini kerap berlangsung secara halus dan panjang, sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi target.
“Masuknya itu sangat smooth, pelan-pelan. Makanya korban sering bingung melihat tanda-tandanya,” ujar Poppy.
Kondisi ini membuat anak sulit membedakan antara perhatian wajar dan manipulasi, terutama karena proses grooming dilakukan secara bertahap.
Lebih lanjut, Poppy menekankan pentingnya memahami posisi korban yang masih berada pada usia anak.
Baca tanpa iklan