Film ‘Tolong Saya!' Angkat Mitos Horor Korea, Dibintangi Saskia Chadwick
Film ini tidak menonjolkan adegan berdarah (gore), melainkan lebih pada kekuatan cerita dan pesan moral.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Mitos roh dan kesialan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea dan sering menjadi inspirasi dalam berbagai program televisi maupun layar lebar
- Satu di antara film yang mengangkat mitos masyarakat Korea adalah film ‘Tolong Saya! (Dowajuseyo) produksi Heart Pictures
- Selain Saskia Chadwick, film arahan sutradara Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca ini dibintangi aktor Korea Kim Geba
TRIBUNNEWS.COM - Di balik kemajuan teknologi dan popularitas budayanya, sebagian masyarakat Korea Selatan masih menyimpan ikatan kuat dengan dunia spiritual dan hal mistis.
Fenomena inilah yang mendasari lahirnya film horor terbaru produksi Heart Pictures bertajuk “Tolong Saya! (Dowajuseyo)”.
Melalui acara Talkshow Urban Culture yang digelar di CGV fX Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026), tim produksi mengungkap bahwa film ini bukan sekadar fiksi.
Ceritanya diangkat dari pengalaman nyata seseorang yang menempuh pendidikan di Korea dan mengalami gangguan mistis berupa penampakan sosok hantu yang menatap tajam seolah meminta pertolongan.
Produser Eksekutif Heart Pictures, Herty Purba, menjelaskan bahwa kisah tersebut kemudian diperkuat dengan riset mendalam mengenai budaya lokal setempat.
Baca juga: Kapok Main Film Horor, Michelle Ziudith: Enggak Mau Lagi, Aku Penakut Banget
Herty memaparkan bahwa masyarakat Korea hingga saat ini masih memercayai keberadaan arwah gentayangan, fenomena kesurupan, hingga roh yang dianggap membawa kesialan.
Praktik mencari bantuan ke "orang pintar" masih menjadi hal yang lumrah dilakukan di sana.
“Di Korea, masyarakatnya masih sangat percaya dengan hal-hal mistis. Kalau merasa tertimpa kesialan, mereka bisa mencari orang pintar, bahkan melakukan ritual seperti tarian pedang untuk mengusir bala,” ungkap Herty.
Selain ritual fisik, Herty juga menyinggung popularitas fortune teller atau peramal nasib yang dikenal sebagai home chat. Berbeda dengan dukun, peramal ini lebih difokuskan untuk melihat potensi keberuntungan atau kesialan seseorang di masa depan.
Hal senada diperkuat oleh aktor asal Korea, Kim Geba (Bung Korea), yang terlibat dalam film ini.
Ia menyebut bahwa mitos roh dan kesialan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea dan sering menjadi inspirasi dalam berbagai program televisi maupun layar lebar.
Film yang mengambil lokasi syuting di Busan ini mendapatkan dukungan besar dari institusi lokal di Korea.
Herty menyebutkan bahwa pihak berwenang di Busan memberikan akses yang luas untuk pengambilan gambar di tempat-tempat yang biasanya sulit dijangkau, seperti universitas dan rumah sakit.
“Syuting di tempat umum itu biasanya sulit dan mahal, tapi di Busan kami sangat dibantu. Banyak pihak yang memberikan dukungan sehingga proses berjalan lancar,” tambah Herty.
Baca tanpa iklan