Asam Urat Tak Selalu Muncul Mendadak, Ini Gejala yang Sering Diabaikan
Gejala asam urat berkembang bertahap, seiring kebiasaan hidup yang terus dibiarkan. Di tahap awal, gejalanya sering terasa ringan. Bukan nyeri tajam.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Asam urat tidak selalu datang dengan serangan hebat sejak awal. Namun sering diabaikan karena dianggap sekadar pegal atau kelelahan biasa
- Pada tahap awal, gejala asam urat sering terasa sangat ringan. Bukan nyeri tajam, melainkan rasa tidak nyaman yang samar
- Karena masih bisa beraktivitas, banyak orang memilih mengabaikannya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gaya hidup serba cepat, pola makan tak terkontrol, dan kebiasaan menyepelekan sinyal tubuh membuat asam urat kerap baru disadari saat nyeri sudah tak tertahankan.
Padahal, asam urat tidak selalu datang dengan serangan hebat sejak awal.
Tubuh sebenarnya memberi tanda perlahan, namun sering diabaikan karena dianggap sekadar pegal atau kelelahan biasa.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Ngoerah, dr. Dewa Ayu Kartika Tejawati, M.Biomed., SPPD, FINASIM, menjelaskan bahwa gejala asam urat berkembang bertahap, seiring kebiasaan hidup yang terus dibiarkan.
Dari “Badan Nggak Enak” Sampai Nyeri Tak Tertahankan
Pada tahap awal, gejala asam urat sering terasa sangat ringan. Bukan nyeri tajam, melainkan rasa tidak nyaman yang samar.
“Kalau yang paling ringan itu mungkin kayak kita agak nggak nyaman ya. Bahkan merasa sendirinya nggak nyaman, badan nggak enak,” jelas dr. Dewa Ayu pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Selasa (20/1/2026).
Baca juga: Asam Urat Sering Terasa di Kaki? Dokter Kaitkan dengan Gaya Hidup, Ini Penjelasannya
Keluhan seperti ini kerap muncul setelah pola makan berat, konsumsi makanan tertentu, atau gaya hidup yang melelahkan.
Karena masih bisa beraktivitas, banyak orang memilih mengabaikannya.
Masalah mulai terasa serius ketika asam urat memicu peradangan di persendian. Sendi bisa mendadak bengkak, merah, dan terasa sangat nyeri hingga sulit berjalan.
“Kadang tiba-tiba benar-benar langsung ngeri banget, nggak bisa dipakai jalan,” ungkapnya.
Serangan mendadak inilah yang sering membuat penderita baru menyadari bahwa keluhan sebelumnya bukan sekadar pegal biasa.
Benjolan Putih di Sendi, Tanda Asam Urat Sudah Kronis
Jika asam urat terus tinggi dan tidak ditangani dengan tepat, komplikasi bisa muncul.
Salah satunya adalah terbentuknya benjolan di sekitar sendi atau jaringan bawah kulit yang dikenal sebagai tophus.
“Dia menumpuk di jaringan ikat, di bawah kulit, jadi benjol-benjol. Kayak putih-putih, kayak kapur,” kata dr. Dewa Ayu.
Benjolan ini bukan hanya mengganggu secara visual, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah lanjutan.
Dalam kondisi tertentu, tophus dapat pecah dan memicu infeksi karena jaringan di sekitarnya tidak sehat.
Selain itu, serangan asam urat juga bisa menjadi berulang.
Rasa nyeri mereda setelah minum obat, lalu kambuh kembali karena kadar asam urat tidak pernah benar-benar dikendalikan.
Gaya Hidup “Minum Obat Saat Sakit” Jadi Pemicu Masalah
Salah satu kesalahan paling sering dalam menangani asam urat adalah pola pikir reaktif, minum obat hanya saat nyeri muncul, lalu berhenti ketika keluhan mereda.
Menurut dr. Dewa Ayu, pendekatan ini berisiko membuat asam urat berkembang menjadi kronis dan memicu komplikasi yang lebih berat.
“Jangan cuma minum obat karena merasa, oh kayaknya saya minum obat ini sembuh nih. Yaudah, nanti kalau serangan lagi, minum obat lagi,” tegasnya.
Dalam tata laksana yang benar, pengobatan asam urat tidak berhenti saat nyeri hilang. Ada target kadar asam urat yang harus dipertahankan dalam jangka panjang agar kristal tidak terus menumpuk.
Ketika target sudah tercapai, pengaturan dosis pun dilakukan secara bertahap, bukan dihentikan mendadak. Tanpa kedisiplinan ini, risiko tophus, infeksi, hingga gangguan ginjal bisa meningkat.
Asam Urat dan Pilihan Gaya Hidup Sehari-hari
Asam urat bukan hanya soal usia atau faktor keturunan. Ia sering menjadi refleksi kebiasaan hidup yang dijalani bertahun-tahun.
Mengabaikan sinyal tubuh, bergantung pada obat pereda nyeri, serta tidak konsisten mengontrol kadar asam urat membuat masalah ini terus berulang.
Mengenali gejala sejak dini dan memahami bahwa pengelolaan asam urat adalah proses jangka panjang menjadi langkah penting agar kualitas hidup tetap terjaga.
Karena pada akhirnya, tubuh selalu memberi peringatan. Tinggal apakah kita mau mendengarkannya, atau menunggu sampai nyeri memaksa kita berhenti.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.