Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!
Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari.
Editor:
Sri Juliati
Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
TRIBUNNEWS.COM - Gagal ginjal kronis (GGK), atau yang dikenal sebagai penyakit ginjal kronis (PGK), kini tidak lagi menjadi ancaman yang terbatas pada kelompok lanjut usia. Secara global, PGK diperkirakan akan menjadi penyakit dengan prevalensi tertinggi kelima pada tahun 2040.
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari 700.000 penduduk hidup dengan PGK, dan jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahun. Pada 2024, tercatat sekitar 134.000 pasien menjalani prosedur hemodialisis (cuci darah) akibat kerusakan ginjal kronis.
Yang lebih mengkhawatirkan, peningkatan kasus juga terjadi pada anak dan remaja; Generasi Z dan Generasi Alfa, yang merupakan calon Generasi Emas 2045.
Meskipun kasus Gagal Ginjal Akut (GGA) pada anak yang sempat menjadi sorotan publik yang telah menyebabkan lebih dari 200 kematian di Indonesia, ancaman penyakit ginjal yang bersifat kronis tidak boleh diabaikan.
Bahkan, proporsi pasien hemodialisis kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk usia 25–34 tahun. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang membuat ginjal anak-anak zaman sekarang lebih rentan?
Pada anak-anak, kelainan ginjal bawaan (kongenital) masih menjadi penyebab utama GGK. Namun, faktor lingkungan dan gaya hidup kini mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan.
Generasi Z (lahir sekitar 1997–2012) dan Generasi Alfa (lahir setelah 2012) tumbuh dalam lingkungan dengan konsumsi tinggi makanan ultra-proses dan paparan polusi, yang meningkatkan risiko terpapar zat kimia bersifat nefrotoksik (beracun bagi ginjal). Paparan kronis terhadap zat-zat ini dapat merusak ginjal secara perlahan sejak usia muda.
Ginjal berperan sebagai organ utama yang menyaring darah dan menjaga keseimbangan internal tubuh. Ketika ginjal terpapar zat kimia berbahaya secara berulang, organ ini dipaksa bekerja lebih keras.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan, pembentukan jaringan parut (fibrosis), dan akhirnya menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Mari kita kaji penyebab yang senyap dari GGK ini!
Baca juga: Bijak Meminum Kopi agar Jadi Penangkal Penyakit
1. Zat Kimia dari Makanan Olahan (The Nefro-Diet)
Generasi Z dan Generasi Alfa dikenal memiliki pola konsumsi tinggi terhadap makanan ultra-proses, makanan cepat saji, serta minuman manis. Kandungan zat aditif di dalam produk tersebut berpotensi menjadi beban berat bagi fungsi ginjal.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedua generasi ini tumbuh bersama jajanan berwarna mencolok, minuman kekinian dengan berbagai tambahan bahan, makanan pedas ekstrem, serta produk suplemen yang mulai digunakan sejak usia sangat muda.
Seluruh paparan ini membawa berbagai senyawa kimia yang, apabila dikonsumsi secara berulang, dapat menimbulkan akumulasi toksik dan memberikan tekanan tambahan pada ginjal.
Pewarna sintetis dalam jajanan, misalnya, mungkin tidak menimbulkan efek langsung ketika hanya dikonsumsi satu atau dua kali.
Akan tetapi, ketika makanan dan minuman kekinian tersebut dikonsumsi hampir setiap hari, zat pewarna dapat terakumulasi dan memengaruhi kesehatan ginjal dalam jangka panjang.
Baca tanpa iklan