Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!

Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sri Juliati
zoom-in Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
ILUSTRASI - Penyebab gagal ginjal pada anak dan remaja. Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari. 

Demikian pula, pemanis buatan yang terdapat dalam minuman manis serta minuman boba yang populer di kalangan remaja turut meningkatkan risiko obesitas dan pembentukan batu ginjal; dua kondisi yang diketahui memperberat kerja ginjal.

Beberapa jenis zat aditif makanan yang sering dikonsumsi oleh anak dan remaja tercatat memiliki potensi nefrotoksik (beracun bagi ginjal) atau memberikan beban metabolik signifikan pada ginjal. 

Di antaranya adalah:

  • Pemanis buatan seperti aspartam dan sukralosa. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi rutin pemanis buatan dalam minuman ringan maupun makanan kemasan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi ginjal. Meskipun mekanisme biologisnya cukup kompleks, pemanis tersebut memerlukan proses metabolisme yang melibatkan ginjal secara intensif.
  • Fosfat anorganik, yang banyak ditemukan dalam minuman bersoda, keju olahan, serta daging olahan seperti sosis dan nugget. Konsumsi fosfat berlebih, terutama dalam bentuk anorganik yang mudah diserap tubuh, dapat mengganggu keseimbangan kalsium dan fosfat. Ketidakseimbangan ini dapat memicu kalsifikasi pembuluh darah ginjal dan berkontribusi pada terjadinya penyakit mineral dan tulang kronis (chronic kidney disease–mineral and bone disorder / CKD-MBD).
  • Asupan garam (natrium klorida) berlebihan juga menjadi masalah yang sering tidak disadari. Natrium yang tinggi dapat menyebabkan hipertensi, yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan jangka panjang pada pembuluh darah halus (glomerulus) di ginjal. Anak dan remaja kini cenderung mengonsumsi natrium melampaui batas aman melalui makanan seperti keripik asin, makanan ringan kemasan, hingga mi instan.

Dalam berbagai temuan klinis, dokter mulai mengidentifikasi pola kebiasaan harian yang mengarah pada risiko kerusakan ginjal sejak usia muda. Terdapat anak-anak sekolah dasar yang hampir setiap hari membeli minuman berwarna pekat dari pedagang di sekitar sekolah. 

Sementara itu, banyak remaja yang dapat mengonsumsi minuman boba dua hingga tiga kali sehari karena mengikuti tren media sosial.

Pola konsumsi seperti ini, apabila dibiarkan berlangsung terus-menerus tanpa edukasi yang memadai, dapat menjadi faktor risiko serius terhadap kesehatan ginjal generasi muda.

2. Zat Kimia dari Obat dan Skincare

Kasus gagal ginjal akut yang terjadi pada tahun 2022 menjadi bukti nyata bahwa zat kimia berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dapat masuk ke dalam produk obat sirup yang dikonsumsi anak-anak. 

Rekomendasi Untuk Anda

Kontaminasi ini menimbulkan dampak fatal karena metabolit kedua zat tersebut dapat merusak tubulus ginjal secara cepat, sehingga memicu gejala berat seperti kejang hingga menyebabkan kematian. 

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa dunia kesehatan anak tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman zat kimia berbahaya yang dapat muncul melalui produk sehari-hari.

Pada saat yang sama, kebiasaan penggunaan obat bebas tanpa pengawasan juga semakin meningkat, terutama di kalangan remaja.

Para remaja yang aktif berolahraga kerap mengandalkan ibuprofen atau obat anti-nyeri lainnya sebagai solusi cepat ketika mengalami nyeri otot. 

Padahal, penggunaan obat-obatan tersebut, terutama ketika tubuh sedang mengalami dehidrasi atau dikonsumsi dalam frekuensi tinggi, dapat memicu cedera ginjal akut.

Risiko ini semakin besar apabila konsumsi obat berlangsung tanpa edukasi yang memadai mengenai dosis dan kondisi tubuh.

Selain itu, tren penggunaan suplemen energi, suplemen pelangsing, serta produk peningkat stamina semakin marak di kalangan anak dan remaja. 

Banyak di antara produk tersebut tidak memenuhi standar keamanan, mengandung logam berat, atau memiliki bahan kimia yang tidak tercantum pada label. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas