Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!
Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari.
Editor:
Sri Juliati
Senyawa-senyawa tersembunyi ini dapat memberikan beban toksik tambahan pada organ tubuh, termasuk ginjal, sehingga meningkatkan potensi terjadinya gangguan fungsi ginjal.
Temuan klinis menunjukkan bahwa atlet sekolah yang mengonsumsi obat anti-nyeri secara berulang mulai mengalami tanda-tanda penurunan fungsi ginjal.
Lebih memprihatinkan lagi, anak usia 10–12 tahun kini banyak yang telah menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon.
Paparan bahan kimia tersebut tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga dapat terserap ke dalam tubuh dan menimbulkan gangguan fungsi organ dalam jangka panjang.
3. Paparan Polusi Lingkungan
Risiko bagi ginjal anak tidak hanya datang dari apa yang mereka makan dan minum, tetapi juga dari benda-benda yang mereka gunakan setiap hari.
Botol minum plastik sekali pakai, kemasan makanan panas, hingga gelas plastik untuk minuman boba dapat melepaskan BPA dan mikroplastik ke dalam makanan atau minuman.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian menemukan jejak mikroplastik di dalam urine anak.
Temuan ini menunjukkan bahwa partikel tersebut benar-benar masuk ke dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan peradangan pada berbagai organ, termasuk ginjal.
Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi jika paparan terjadi terus-menerus, akumulasinya dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak.
Gaya hidup modern juga membuat anak-anak terpapar logam berat seperti timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dari lingkungan sekitar. Timbal masih dapat ditemukan dalam cat bangunan lama, tanah, serta beberapa jenis mainan murah atau impor.
Sementara itu, kadmium banyak ditemukan dalam asap rokok—baik pada perokok aktif maupun pasif—serta pada air yang terkontaminasi dan beberapa jenis sereal atau sayuran yang tumbuh di tanah tercemar.
Kedua logam berat ini bersifat kumulatif, sehingga dapat menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan toksisitas langsung pada tubulus ginjal.
Paparan tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal menyerap kembali zat-zat penting, yang akhirnya memicu munculnya proteinuria atau kebocoran protein dalam urine.
Selain logam berat, residu pestisida seperti golongan organoklorin yang terdapat pada buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan ginjal.
Walaupun jumlahnya kecil, paparan pestisida secara berulang dapat bersifat nefrotoksik dan memicu stres oksidatif serta peradangan ginjal dalam jangka panjang.
Baca tanpa iklan