Tantri Kotak dan Arda Tegaskan Pemulihan Bencana Sumatra Butuh Dukungan Jangka Panjang
Tantri Kotak dan suaminya, Hatna Danarda menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada hari kejadian semata.
Penulis:
Fauzi Nur Alamsyah
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fauzi Alamsyah
Ringkasan Berita:
- Tantri Kotak dan suaminya, Hatna Danarda menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada hari kejadian semata.
- Pasangan musisi ini menyoroti fase pemulihan di Siamtera yang justru membutuhkan perhatian dan dukungan jangka panjang dari berbagai pihak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Musisi Tantri Syalindri atau Tantri Kotak dan suaminya, Hatna Danarda menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada hari kejadian semata.
Hal itu merujuk kepada wilayah Sumatera yang belum lama ini terkena bencana.
Baca juga: Dapat Kejutan Mobil Listrik Mewah dari Arda, Tantri Kotak Menangis: Uang dari Mana Sayang?
Menurut mereka, fase pemulihan justru membutuhkan perhatian dan dukungan jangka panjang dari berbagai pihak.
Hal tersebut disampaikan Tantri dan Arda usai tampil dalam konser amal Gitaris untuk Negeri, Donasi untuk Pemulihan Sumatra yang digelar Kompas Gramedia di Gedung Kompas TV, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (26/1/2026) malam.
“Yang namanya kejadian itu kan nggak hanya ngomongin saat itu, tapi pemulihannya yang benar-benar justru butuh support dari banyak orang,” ujar Tantri.
Tantri mengungkapkan, saat awal mengetahui bencana di Sumatra, ia dan Arda sempat menghubungi kerabat yang berada di lokasi terdampak.
Kondisi di lapangan disebut jauh lebih parah dibandingkan yang terlihat di media sosial.
Baca juga: Arda Hatna Galau Saat Manggung, Suami Tantri Kotak Kepikiran Indonesia Tertinggal dari Australia
“Kita kaget dan sedih banget. Bahkan ada wilayah yang sulit dijangkau, akses komunikasi terputus, dan korban yang terus bertambah beberapa hari setelah kejadian,” kata Tantri.
Menurut Tantri, perhatian publik sering kali besar di awal bencana, namun perlahan menurun seiring berjalannya waktu. Padahal, kebutuhan para korban justru meningkat pada fase pemulihan.
Ia menilai, mengandalkan pemerintah saja tidak cukup untuk memastikan pemulihan berjalan optimal.
Namun dengan keterlibatan masyarakat luas dinilai menjadi kunci agar bantuan dapat terus mengalir.
“Kalau kita mengandalkan pemerintah doang, mungkin nggak akan semasif seluruh penduduk Indonesia untuk bareng-bareng saling support mereka yang saat ini sangat butuh bantuan,” ujarnya.
Baca tanpa iklan