Pinkan Mambo Akui Nunggak Bayar Gaji Karyawan Meski Dapat Omzet Rp 2 Juta Per Hari
Meski dapat omzet Rp 2 juta sehari lewat live media sosial, Pinkan Mambo akui masih menunggak gaji karyawan.
Editor:
Dewi Agustina
Ringkasan Berita:
- Pinkan Mambo banting stir jadi pengusaha agar ia bisa punya banyak uang.
- Pinkan mengklaim hanya dengan melakukan live TikTok selama satu jam, ia bisa meraup omzet jutaan rupiah.
- Namun dia mengaku masih menunggak bayar gaji karyawan.
Laporan Wartawan WARTAKOTALIVE.COM, ARIE PUJI WALUYO
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah kariernya meredup sebagai penyanyi, Pinkan Mambo memilih untuk banting stir sebagai pengusaha.
Terakhir Pinkan Mambo memutuskan untuk jualan donat, caranya memasarkan usahanya itu pun sangat viral dan jadi sorotan publik.
Baca juga: Ibu Arya Khan Sempat Tak Restui Putranya Nikahi Pinkan Mambo, Soroti Kondisi sang Anak
Ada alasan mengapa Pinkan Mambo banting stir jadi pengusaha, ketimbang mempertahankan eksistensinya sebagai penyanyi.
Pinkan Mambo menegaskan dirinya mau jadi pengusaha agar ia bisa punya banyak uang, serta tidak bekerja dengan orang lain lagi.
"Aku pengin jadi pengusaha, pengin jadi triliuner. Maksudnya pengin punya usaha yang bangun tidur melek udah bikin uang," kata Pinkan Mambo ketika ditemui di kawasan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten, belum lama ini.
Setelah menjadi pengusaha selama beberapa tahun, Pinkan mengklaim hanya dengan melakukan live TikTok selama satu jam, ia bisa meraup omzet jutaan rupiah.
"Aku cuma keranjang kuning aja, sejam aja aku nge-live itu udah dapat Rp 2 juta. Enggak usah main TikTok (lama-lama)," ucap wanita berusia 45 tahun itu.
Mantan personel grup musik Ratu itu harus menerima kenyataan kalau keinginannya tak seindah mimpi. Meski dapat omzet Rp 2 juta sehari, ia masih menunggak gaji karyawan.
"Aku banyak utang-utang yang harus aku bayar, gaji pegawai aku. Sampai hari ini aku masih sering nangis karena pegawai aku belum dilunasin," jelasnya.
Pemilik nama lengkap Pinkan Ratnasari Mambo ini merinci beban gaji tersebut terasa berat, karena jumlah pegawainya yang cukup banyak, walaupun dalam sehari ia memberikan upah sebesar Rp 100 ribu.
"Sehari tuh Rp 100 ribu doang, karena kan ada 13 orang, jadi Rp 100 ribu perorangan juga jadi Rp 1,3 juta kan, Mbak. Jadi berat buat aku," ungkapnya.
Kendati demikian Pinkan bersyukur bukan mental pengemis. Ia tidak meminta minta pekerjaan ke orang lain, agar ia bisa menutupi gaji karyawan.
Baca tanpa iklan