Diafora, Film Dokumenter yang Memotret Wajah Asli Toleransi Indonesia di Mata Dunia
Dokumenter ini mengambil latar belakang di sejumlah titik ikonik multikultural di Jakarta. Mulai dari Masjid Istiqlal hingga pecinan Glodok.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Film dokumenter "Diafora: A Tale of Coexistence in Indonesia" hadir bukan sekadar memuji indahnya toleransi, melainkan membedah realitas kompleks di balik keberagaman yang ada di Tanah Air
- Dokumenter ini saat membahas dinamika konflik yang kerap terjadi di Indonesia.
- Menjaga kebinekaan memerlukan upaya yang berkelanjutan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh agenda-agenda politis yang memecah belah
TRIBUNNEWS.COM - Mahasiswa Universitas Paramadina melalui kanal YouTube Sunday Diversity resmi merilis film dokumenter bertajuk "Diafora, A Story of Coexistence in Indonesia".
Film ini hadir bukan sekadar untuk memuji indahnya toleransi, melainkan membedah realitas kompleks di balik keberagaman yang ada di Tanah Air.
Proyek kolaborasi dengan Uni Emirat Arab ini bertujuan memperkenalkan Indonesia ke kancah internasional sebagai laboratorium sosial tempat berbagai agama dan budaya saling berpijak dalam satu ruang.
Sudut pandang menarik muncul dalam dokumenter ini saat membahas dinamika konflik yang kerap terjadi di Indonesia.
Baca juga: Film Dokumenter Ra Ritek Raih Piala Citra, Novita Hardini: Bukti Film Lingkungan Diterima Publik
Prem Singh, seorang tokoh agama Sikh, menegaskan bahwa gesekan sosial yang membawa isu agama sering kali merupakan produk buatan untuk tujuan tertentu.
“Sering kali ada isu-isu tertentu yang sengaja digunakan untuk menimbulkan konflik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa isu seperti ini kerap diangkat dan diviralkan untuk kepentingan tertentu, misalnya dalam momentum politik seperti pemilihan,” jelas Prem Singh dalam narasinya.
Ia menambahkan bahwa menjaga kebinekaan memerlukan upaya yang berkelanjutan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh agenda-agenda politis yang memecah belah.
Keberagaman yang Tidak Harus Menjadi Sama
Senada dengan hal tersebut, Titis selaku Altar Server Coordinator, menekankan bahwa esensi dari coexistence atau hidup berdampingan bukanlah tentang menyeragamkan keyakinan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan tersebut.
“Sejak lahir kita memang sudah berbeda. Keberagaman itu harus ada dan tidak harus selalu menjadi sama. Menghargai perbedaan jauh lebih indah daripada memaksakan kehendak,” ujar Titis.
Dokumenter ini mengambil latar belakang di sejumlah titik ikonik multikultural di Jakarta.
Kamera menangkap kehangatan di Masjid Istiqlal yang bersandingan dengan Gereja Katedral, ketenangan Pura Adhitya Jaya Rawamangun, hiruk-pikuk kawasan Pecinan Glodok, hingga kedalaman spiritual di Gurdwara Guru Nanak Sikh Temple.
Lokasi-lokasi tersebut dipilih sebagai representasi nyata ruang perjumpaan lintas iman dalam kehidupan masyarakat urban Indonesia yang sibuk namun tetap saling menghormati.
Melalui Sunday Diversity, tim mahasiswa Universitas Paramadina berharap karya ini menjadi ruang refleksi bersama. Mereka menekankan bahwa hidup berdampingan tidak selalu berjalan mulus tanpa gesekan.
Namun, dengan kesadaran, literasi, dan komitmen untuk saling menghargai, gesekan tersebut dapat diredam.
Film dokumenter "Diafora" kini sudah dapat diakses oleh publik melalui kanal YouTube Sunday Diversity.
Karya ini diharapkan menjadi pengingat bahwa di balik perbedaan yang tampak, ada kekuatan besar yang bernama kemanusiaan.
Baca tanpa iklan