Anak dan Lansia Rentan Dehidrasi Saat Puasa, Dokter Ingatkan Jangan Tunggu Rasa Haus Hilang
Pada lansia, risiko dehidrasi saat puasa bukan hanya karena aktivitas, tetapi juga perubahan fisiologis tubuh.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Setiap orang punya tantangan berbeda saat menjalani ibadah puasa Ramadan. Ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami dehidrasi, bahkan tanpa menyadari tanda awalnya
- Risiko dehidrasi saat puasa bisa dilihat berdasarkan karakteristik usia dan kondisi tubuh
- Anak-anak, terutama yang baru belajar puasa penuh, belum sepenuhnya memahami risiko aktivitas fisik saat berpuasa
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua orang memiliki risiko yang sama saat menjalani puasa.
Di balik ibadah menahan lapar dan haus, ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami dehidrasi, bahkan tanpa menyadari tanda awalnya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Internis) Subspesialis Ginjal Hipertensi, dr. Yulia Wardhani, Sp.PD, Subsp. GH. (K), mengingatkan bahwa risiko dehidrasi saat puasa bisa dilihat berdasarkan karakteristik usia dan kondisi tubuh.
Menurutnya, pada orang dewasa sehat, umumnya masih mampu mengatur aktivitas ketika mulai merasa haus.
Saat tubuh memberi sinyal kekurangan cairan, mereka cenderung mengurangi aktivitas yang memicu keluarnya keringat berlebih.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada anak-anak dan lansia.
Anak yang Aktif Rentan Kehilangan Cairan
Anak-anak, terutama yang baru belajar puasa penuh, belum sepenuhnya memahami risiko aktivitas fisik saat berpuasa.
Mereka tetap aktif bermain, termasuk melakukan aktivitas luar ruangan yang memicu banyak keringat.
Baca juga: Sering Diabaikan! Ketahui Tanda Dehidrasi Saat Puasa yang Bisa Jadi Alarm Bahaya
Tanpa pengawasan dan nasihat yang tepat, aktivitas seperti bermain bola atau berlari di bawah terik matahari bisa meningkatkan risiko kehilangan cairan secara signifikan.
Karena itu, pembatasan aktivitas menjadi langkah penting untuk mencegah dehidrasi selama puasa.
“Coba melimitasi aktivitas yang nantinya bisa memicu cairan itu menjadi lebih banyak luar Jadi kita tidak banyak beraktivitas, mungkin dipakai untuk beristirahat, sehingga nanti bisa menunggu saat berbuka dan tubuh kita bisa terhidrasi lagi," ungkapnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Rabu (25/2/2026).
Istirahat dan pengaturan aktivitas membantu tubuh mempertahankan keseimbangan cairan hingga waktu berbuka tiba.
Lansia Punya Risiko Fisiologis Lebih Tinggi
Selain anak-anak, kelompok usia lanjut juga menjadi perhatian serius. Pada lansia, risiko dehidrasi bukan hanya karena aktivitas, tetapi juga perubahan fisiologis tubuh.
Seiring bertambahnya usia, massa otot cenderung menurun. Padahal, otot merupakan tempat penyimpanan cadangan air dalam tubuh. Ketika massa otot berkurang, cadangan cairan pun ikut menurun.
Baca tanpa iklan